Senin, 09 Agustus 2010

Selamat Ber-Aha Eureka Kembali: Matematika dan Tauhid Islam, Sebuah Mata Rantai Terputus

Hampir setahun lebih sudah saya, Neo Revo, tidak aktif menulis. Pengunjung yang setia dan semua pembaca blogku yang budiman, saya mohon maaf atas kevakuman tulisan saya. Dan menjelang Ramadhan 1431 H ini semoga saya terus kembali aktif menulis lagi.

Dalam awal tulisan saya kali ini, saya ingin menjelaskan mengapa saya tidak lagi berprofesi sebagai guru, dan kaitannya dengan masalah sekolah-sekolah Islam.

Perlu pembaca mengetahui tentang sedikit profesi saya. Saya berhenti menjadi guru persis setahun yang lalu. Banyak alasan yang dapat saya sampaikan kepada Anda, tetapi yang lebih penting saya sampaikan secara pribadi kepada Anda semua pembaca blogku setia adalah alasan utama yang mengganggu pikiran dan idealisme saya.

Saya adalah mantan guru bahasa Inggris untuk tingkat SMA di sebuah sekolah swasta di Bekasi. Sekolah tersebut (maaf saya tidak menyebutkan nama sekolah tersebut demi nama baik sekolah) bercirikan Islam meski tidak melabeli diri sebagai sekolah Islam. Dan saya adalah lulusan dari sebuah pondok pesantren selama 6 tahun dari tahun 1983-1989. Yang menjadi gangguan pikiran saya adalah mengapa sekolah Islam atau siswa-siswa Indonesia yang beragama Islam sangat kental dengan "virus jahat" ideologi atau alam filsafat Barat dalam mata banyak mata pelajaran wajib di kelas yang jauh dari nilai-nilai hakiki Islam? Bagaimana lagi dengan sekolah yang tidak bercirikan Islam? Dapat Anda bayangkan bagaimana begitu banyak "virus jahat" ideologi yang menjangkiti siswa-siswa Indonesia yang mayoritas beragama Islam dalam pola pikir!

Pembaca yang budiman, saya selalu bertanya dan semoga Anda juga memiliki pertanyaan yang sama: Apa yang didapatkan dari sebuah sekolah berlabel Islam sedangkan dalam pelajaran di bangku sekolah masih ada "virus flisafat jahat" yang merusak aqidah dan pola pikir mereka terhadap keislaman itu sendiri?

Tiada guna secara maksimal untuk mencetak siswa yang mendapatkan nilai-nilai Islam meski mendapatkan pelajaran agama seperti pelajaran tentang Al Quran dan sebagainya jika pelajaran-pelajaran lain seperti biologi, fisika dan matematika masih saja berlandaskan alam filsafat Barat.

Untuk pelajaran terakhir yang saya sebutkan di atas, kali ini menjadi topik tulisan saya. Sebelum membahas hal ini kembali saya bertanya kepada Anda: Apa arti sekolah berlabelkan Islam jika mata pelajaran wajib lainnya yang berlandaskan alam filsafat Barat masih diajarkan untuk mereka? Lalu apa solusi terbaik dari hal ini?

Saya pernah berdiskusi tentang hal ini setahun yang lalu di masjid Al Akbar Surabaya dengan seorang professor dari salah satu sebuah universitas negeri di Surabaya. Lalu saya sampaikan solusi yang menurut saya cukup baik. Solusi tersebut adalah: Mengapa kita tidak mengumpulkan para penulis Islam yang memiliki potensi besar untuk menyusun buku pelajaran beserta kurikulumnya dengan pola pikir Quran-Hadits? Adalah tidak mungkin menjadi siswa yang Islam secara kaffah jika masih menggunakan kurikulum dan buku yang bertentangan dengan Islam meski ia sekolah dengan label Islam bahkan di sebuah pondok pesantren sekalipun!

Saya kebetulan masih memiliki anak berusia 4 tahun dan semenjak dini sudah saya wasiatkan kepada istri saya untuk tidak pernah menyekolahkan anak kami jika selama itu pula sekolah masih menggunakan kurikulum dan buku alam filsafat Barat. Kami hanya ingin ia belajar secara dalam Al Quran dan Hadits saja tanpa dicemari oleh "virus filsafat jahat" melalui pelajaran-pelajaran umum di sekolah.

Tampak sebuah hal yang aneh dan "ngaco" bagi orang tua yang lain tentang sikap kami ini, tetapi jika Anda membaca artikel saya ini boleh jadi Anda setuju dengan saya. Toh kalaupun tidak, minimal saya telah "meracuni" pola pikiran Anda untuk berpikir sejenak tentang idealis saya.

Kini mari saya hantarkan Anda ke topik utama tulisan saya.

Jika Anda membaca rumus E=MC2 tentu Anda mengenal rumus tersebut ketika belajar fisika di bangku SMA. Atau rumus s=v.t atau rumus fisika dan kimia yang lain. Tentu rumus-rumus tersebut sering dikaitkan dengan nama penemunya sebagai penghargaan atas jerih payah mereka menemukan rumus tersebut.

Tetapi pernahkah terbesit di pikiran Anda siapa yang menemukan sebuah kemutlakan dalam matematika: 1+1 = 2? Atau mengapa semua manusia di jagat bumi ini tanpa sadar sepakat bahwa 1+1 =2? Mengapa tidak ada yang memiliki aturan lain jika 1+1= 5 misalnya? Dan mengapa semua manusia di jagat ini sepakat bahwa angka 1 adalah angka benar-benar tunggal? Dan mengapa seluruh manusia di muka bumi ini sepakat dengan bilangan yang sama? Siapa yang mengajarkan hal ini kepada semua manusia di muka bumi ini? Mengapa tidak ada yang mengklaim jika 1+1=2 adalah rumus seseorang? Jika Archimedes yang kotasi Aha Eureka! miliknya saya jadikan label untuk blog ini dianggap sebagai jenius dengan rumusnya FA=ρ.g.V bukanlah penemu 1+1=2, atau Newton atau bahkan Einstein sekalipun, lalu siapa? Dan mengapa kita setuju saja waktu diajarkan oleh guru kita di kelas dan tidak memprotes jika kita punya "rumus" sendiri untuk hasil penjumlahan 1+1? Jika Anda masih duduk di bangku sekolah dan mengajukan pertanyaan kepada guru matematika Anda mengapa 1+1=2 dan tidak 1+1=3 tentu guru Anda menjawab sederhana: ya begitulah perhitungannya. Dan jika Anda bertanya lagi kepada guru Anda siapa yang menemukan 1+1=2 tentu guru Anda tidak mampu menjawabnya.

Pembaca yang budiman semoga pertanyaan awal tersebut mengganggu pikiran Anda. Boleh jadi ini tidak pernah terpikirkan oleh Anda sebelumya. Tentu Anda sepakat dengan saya bahwa TIDAK ADA PENEMU untuk 1+1=2 atau perhitungan lainya!

Jika tidak ada, lalu siapa yang mengajarkan hal ini dan mengapa semua manusia di jagat ini sepakat dalam hal yang sama?

Jawabannya, dan mungkin Anda terkejut adalah hal ini diajarkan oleh Allah secara langsung kepada Nabi Adam as sewaktu beliau belum diturunkan di muka bumi ini.

Satu pertanyaan dalam diri Anda adalah: darimana fakta ini saya dapatkan?

Jawaban dari pertanyaan Anda adalah karena sistem bilangan matematika adalah jalan menuju tauhid murni Allah SWT.

Ingatlah dalam ayat pertama dari surat Al Ikhlas Allah berfirman: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ.

Konsep tunggal dan angka 1 adalah ilmu mutlak yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam sebagai manusia pertama dan wajib untuk diteruskan kepada anak cucu beliau nantinya. Sebagai ilmu dasar untuk mengenal konsep SATU Allah SWT maka adalah sangat logis jika Allah mengajarkan matematika dasar kepada Nabi Adam agar beliau meyakini secara logis dan ainul yaqin akan SATU tuhan atau tauhid Allah.

Tidak mungkin Nabi Adam mengetahui tentang tauhid Allah jika beliau tidak diajarkan secara langsung oleh Allah sendiri akan matematika dasar sedangkan manusia memilki potensi dahsyat dalam rasionya untuk memahami konsep matematika yang rumit.

Bilangan, perhitungan dan kemutlakan matematika seperti 1+1=2 tentu sudah lebih dulu Allah ajarkan agar manusia tidak tersesat dalam memahami keesaan Allah. Oleh karenanya, jika ada yang ngotot mengatakan 1+1+1=1 dan membantah 1+1+1=3, maka dalam pergaulan kita sehari-hari tentu orang tersebut dianggap bodoh dan bahkan dianggap gila. Mengapa? Karena hasil perhitungan berbeda dengan manusia yang lain di seluruh muka bumi ini.

Konsep tauhid sejatinya adalah konsep matematika dasar yang sudah dibekali oleh Allah untuk seluruh manusia melalui nabi Adam. Dan ketika nabi Adam diturunkan ke muka bumi maka yang diajarkan oleh beliau untuk anak dan cucunya adalah konsep dasar matematika ini agar tidak rancu memahami tauhid Allah. Dan ini terus diajarkan sebagai pelajaran wajib agar meyakini secara logis dan haqqul yakin (khusus nabi Adam saya sebutkan ainul yaqin dan begitu pula para nabi) akan ketauhidan Allah.

Salah satu yang diajarkan oleh nabi Adam kepada anak dan cucu-cucunya adalah 1+1=2 dan tidak ada jawaban lain! Hal ini penting bahwa tidak ada tuhan lain selain Allah. Jika ada tuhan lain maka dua tuhan tidak mungkin mampu mengolah alam raya ini secara harmonis sedangkan dalam diri tuhan masing-masing memiliki kekuasaan mutlak. Mengapa? Karena 1 tidak sama dengan 2!

Kembali ke persoalan awal pertanyaan saya. Adalah hal yang memiriskan hati kita pada hari ini dimana mata pelajaran matematika kita jauh dikaitkan dengan ketauhidan Allah. Tidak ada buku-buku pelajaran matematika yang beredar di Indonesia secara khusus untuk sekolah-sekolah Islam atau pondok pesantren mengkaitkan matematika dengan tauhid. Padahal Islam memiliki pakar matematika yang sangat disegani di Barat dalam bidang matematika. Beliau tersebut adalah Al Khawarizmi.

Islam, dengan konsep قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ mengajarkan kita semenjak dini akan matematika dasar ke setiap anak kita agar mereka tidak mengalami kerancuan akan konsep satu dan bilangan yang lain. Konsep ini merupakan pelajaran wajib bagi setiap anak muslim. Logikanya adalah pelajaran matematika dasar juga wajib diajarkan oleh orang tua kepada anaknya agar ia tidak tersesat dalam memahami keesaan Allah.

Uniknya hari ini adalah di Barat yang mayoritas beragama Nasrani dan di Barat pula hari ini terkenal dengan jago matematika masih ada yang ngotot mempertahankan konsep trinitasnya dengan mengatakan 1+1+1=1. Padahal dari kesepakatan seluruh manusia di muka bumi ini entah ia beragama apa saja pasti ketika di bangku sekolah diajarkan 1+1+1=3 dan tidak pernah 1+1+1=1.

Pembaca yang budiman, ironisnya pada hari ini matematika menjadi mata rantai yang terputus dengan tauhid Allah padahal matematika diajarkan dan juga menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah yang berlabelkan Islam. Ini baru matematika yang menjadi dasar perhitungan untuk mata pelajaran eksata lainnya seperti fisika dan kimia.

Jika matematika saja sudah terputus dengan tauhid Allah tentu pelajaran fisika dan kimia terputus juga. Sebuah ironi yang fatal mengingat Islam identik dengan logika matematika mutlak.

Oleh karena hal ini saya keluar dari profesi saya dan mencari konsep kurikulum dan buku mata pelajaran yang benar-benar tidak terputus dengan tauhid Allah. Fisika, kimia dan bahkan biologi semuanya tidak pernah terputus dengan tauhid Allah karena Allah meliputi segala hal di alam raya ini.

Ironisnya, hari ini sekolah-sekolah bercirikan islami jauh dari ketauhidan Allah dengan suka rela mengunyah lalu menelan dengan nikmat kue pahit filsafat Barat dalam banyak mata pelajaran tanpa sadar kue tersebut juga mengandung racun berbahaya.

Sudah saatnya para pakar ilmu beraqidah Islam duduk bersama lalu membuat kurikulum dan buku mata pelajaran dengan konsep Al Quran dan Hadits. Sangat banyak yang harus disampaikan dalam buku mata pelajaran tersebut dengan mata rantai tauhid.

Dan sudah saatnya pula kita membuang jauh-jauh "virus jahat" filsafat dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah Islam. Dan sudah saatnya pula setelah Anda membaca artikel saya ini untuk merubah pola pikir Anda terhadap banyak mata pelajaran hari ini. Bagaimana pendapat Anda?


 


 


 


 


 


 


 


 


 

 

6 komentar:

James Ibrahim mengatakan...

Terimakasih, saudara Neo Revo, anda bersedia menulis kembali. Memberi warna tersendiri bagi jagat da'wah melalui tulisan2 bermutu. Keep posting, kita semua sangat menghargainya.

Neo Revo mengatakan...

Terima kasih kembali. Tanpa dorongan dari semua pembaca dan pengunjung blog ini maka saya tidak berarti apa-apa.

Salam untuk semuanya, dan tetap ber-Aha Eureka! Semoga saya masih terus diberi ilham dan ilmu yang berguna bagi umat Islam.

Hanya kepada Allah saja saya memohon ampun.

Sakinah Fithriyah mengatakan...

saya sangat setuju betapa amat membuang waktu dan mubazirnya pelajaran2 kita selama ini karena sama sekali tidak menghantarkan hakikat ilmu2 kebenaran yang berpangkal pada ketauhidan, melainkan habis termakan oleh teori2 barat yang justru malah menyesatkan. bagaimana perkembangan dari rencana bapak tersebut?

Sakinah Fithriyah mengatakan...

saya sangat setuju betapa amat membuang waktu dan mubazirnya pelajaran2 di kurikulum kita selama ini karena sama sekali tidak menghantarkan hakikat ilmu2 kebenaran yang berpangkal pada ketauhidan, melainkan habis termakan oleh teori2 barat yang justru malah menyesatkan. bagaimana perkembangan dari rencana bapak tersebut?

Sakinah Fithriyah mengatakan...

saya sangat setuju betapa amat membuang waktu dan mubazirnya pelajaran2 di kurikulum kita selama ini karena sama sekali tidak menghantarkan hakikat ilmu2 kebenaran yang berpangkal pada ketauhidan, melainkan habis termakan oleh teori2 barat yang justru malah menyesatkan. bagaimana perkembangan dari rencana bapak tersebut?

Neo Revo mengatakan...

Perkembangan rencana saya sampai hari ini masih berjalan di tempat karena belum ada yang mau mengajak saya untuk duduk bersama urung rembug masalah ini. Saya berharap para pakar Islam sudah harus memulai proyek besar ini seperti yang dilakukan oleh Harun Yahya yang membuat buku pelajaran biologi ala Quran hadis meski terbatas di luar negeri. Paling tidak semangat beliau harus ditiru oleh kita semua tidak terbatas di pelajaran biologi. Terima kasih dan tetap ber-aha eureka!