Sabtu, 19 April 2008

Islam, Kartun dan Teletubbies

Anda pasti pernah mendengar kalimat populer berikut ini:"Berpelukkan . . .". Ya, kalimat tersebut terlontar dari boneka-boneka lucu dalam film anak-anak Teletubbies. Tapi tahukah Anda bahwa dalam film ini tersimpan ideologi pagan atau ideologi anti-tauhid yang dikemas secara halus dan sempurna?

Pembaca yang budiman, jika Anda perhatikan secara jeli dan kemudian berpikir secara jernih dan dalam maka akan Anda dapatkan jika film ini secara halus menyajikan ideologi tentang kesucian matahari, bintang di tata surya kita yang dianggap suci bagi suku Indian dan di beberapa tempat di dunia ini.

Sudah bukan rahasia lagi jika matahari menjadi sebuah dewa suci, baik itu dalam agama Hindu, Sinto, Mesir kuno dengan nama Ra, dan lain sebagainya.

Lalu di mana letak ideologi dewa matahari ini.

Sebelum penulis membahasnya, perhatikan gambar di bawah berikut ini.



Nah, di gambar yang diambil dari film Teletubbies tersebut terlihat dengan jelas bagaimana matahari diberi rupa dengan wajah bayi yang lucu dan innocent. Lalu di mana letak simbol dewa mataharinya?

Dalam film tersebut, matahari diberi rupa wajah bayi. Seperti kita ketahui bersama, bayi menandakan kesucian, yang artinya ia lahir di dunia ini tanpa dosa sama sekali dan setiap orang yang melihat anak bayi pasti secara naluri akan tersetuh dengan rasa sayang dan kelucuan dari wajahnya yang memang tanpa dosa.

Nah, di sinilah secara halus film ini dibuat untuk memberi simbol dewa matahari secara halus dengan menampilkan wajah bayi dengan maksud mudah diterima oleh anak-anak tapi sejatinya bermakna penghormatan terhadap dewa matahari.

Film yang dibuat di Inggris oleh Ragdoll Production pada tahun 1997 ini membuat kita teringat akan hari minggu dalam bahasa Inggis, Sunday, harinya matahari. Sebuah nama untuk sebuah hari untuk menyembah matahari.

Memang bila penulis memberi kometar demikian ada yang mengatakan, "Ah, film itukan untuk anak-anak, anak-anak mana tahu hal seperti itu. Dan juga analisa seperti itu terlalu jauh dari film yang disajikan".

Tetapi jika kita melihat secara utuh akidah Islam maka sudah seharusnya kita tetap mem-protect anak-anak kita meski hal tersebut sangat kecil dan halus secara ideologi.

KArtun atau film animasi lainnya tetaplah dibuat oleh manusia yang mana dalam otaknya tetap menyimpan sebuah konsep, entah itu konsep hdupnya maupun konsep secara umum akan pandangan hidupnya.

Sebagai bahan renungan dan sekaligus wacana adalah jika kita memprotes kartun Nabi Muhammad yang dibuat secara "kasar dan menghina" apakah kita juga memprotes jika Nabi Muhammad digambar dengan "baik dan terhormat?

Jika jawaban ini adlah ya, kita harus memprotes kartun yang meski baik dan sebuah penghormatan untuk Nabi, lalu bagaimana film kartun-kartun nabi-nabi yang lain? Bukankah kita memiliki pedoman dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat ke-285 yaitu:
"Rasul (Muhammad) telah beriman kepada Aap yang diturunkan kepadanya dari Tuhanya dan demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata)"Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya".

Jika kartun Nabi Muhammad tidak boleh dibuat maka seharusnya kita juga bertanya hal yang sama bagaimana nasib kartun-kartun Nabi/Rasul yang lain seperti Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi Isa as.

Bila kita melihat kartun Nabi Nuh, Ibrahim, Musa yang dibuat di Barat maka kita mendapatkan begitu mudahnya mereka mereka-reka wajah dan gaya para Nabi tersebut. Jelas, kartun yang dibuat oleh mereka ini berdasarkan kisah-kisah yang ada di Bible.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap kartun para nabi ini? Samakah marah kita seperti marah kita terhadap kartun Nabi Muhammad yang seandainya dibuat berdasarkan kisah dalam Al Qur'an?

Jika tidak sama? Lalu bagaimana dengan ayat ke-285 dari surat Al Baqarah tersebut? Bukankah kehormatan semua Nabi dan rasul harus sama di mata kita sebagai orang beriman?

Biarlahlah pertanyaan ini menjadi renungan dan wacana bagi kita semua.

Bagaimana pendapat Anda?

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Duileee..... heboh amat seh. Film anak-anak aja. Emang tu film tayang bertahun-tahun? Ga lah. Anak-anak juga ga sampe segitunya mikir analogi tentang matahari dan bayi. Kalo semua dibuat analogi gitu, kita bakal ketakutan terus ato jadi parno sama semua hal-hal di sekeliling kita. Rugi banget kaan....