Jumat, 05 September 2008

Ulat, Ular dan Puasa Kita

Marhaban ya Ramadhan, selamat berpuasa semua!

Artikel kali ini akan membahas sejauh mana kita berpuasa selama bulan Ramadhan agar nanti pada tanggal 1 Syawal kita menjelma menjadi manusia yang suci kembali.

Allah telah menciptakan alam ini sebagai bahan pembelajaran bagi manusia. Kita dapat membaca ayat Al Qur'an bagaimana manusia belajar pada burung gagak untuk menguburkan mayat. Ini terjadi ketika Qabil membunuh saudaranya Habil dan ia bingung dicampur menyesal luar biasa membawa-bawa mayat saudaranya, Habil. Allah mengutus 2 burung gagak yang saling berkelahi dan salah satunya mati kemudian yang lainnya menguburkan mayat di depan Qabil. Saat itu Qabil baru tahu bagaimana menguburkan mayat.

Kini mari kita belajar tentang puasa dari binatang lain: ulat dan ular.

Ulat, seekor binatang yang begitu lemah dan terkadang menjijikan di mata kita. Tubuh yang tidak punya tulang dengan bentuk tubuh yang ketika bergerak menggeliat-geliat, ternyata menjadi cermin hebat bagi kita umat Islam yan berpuasa setahun sekali di bulan Ramadhan. Ulat selama hidupnya hanya sekali berpuasa, tetapi ia menjadi contoh sempurna untuk tingkatan kita berpuasa.

Seperti yang kita ketahui bagaimana ulat berubah menjadi kupu-kupu dalam proses yang disebut metamorphosis. Dalam proses ini, ulat berpuasa: tidak makan dan minum, apalagi berhubungan seksual.



Seperti yang sering dikutip para ustadz dan ulama, tingkatan puasa dibagi tiga menurut Imam Ghazali yaitu:
1. Puasa orang awam
2. Puasa orang khusus
3. Puasa khusus dari khusus

Untuk tingkatan pertama, Imam Ghazali menyatakan bahwa puasa pada tingkatan ini hanya menahan lapar, haus dan hasrat seksual. Jika bercermin pada seekor ulat dalam proses metamorphosis maka puasa yang demikian setara dengan puasanya seekor ulat. Jadi jika selama ini kita berpuasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan hasrat seksual ternyata kita tidak jauh berbeda seperti seekor ulat.

Hanya saja ulat berpuasa menjelma jadi makhluk yang indah, sedap dipandang, bermanfaat dan terkadang menjadi bahan komoditi mahal bagi penggemar kolektor kupu-kupu langkah. Sementara kita yang puasa sekedar menahan lapar, has dan hasrat seksual tetaplah menjadi manusia biasa saja bahkan berstatus rugi di akhirat kelak.

Tingkatan puasa yang kedua yaitu puasa tidak sekedar menahan lapar, haus dan hasrat seksual tetapi juga menahan seluruh indra dan anggota tubuh terhadap hal-hal yang merusak nilai puasa, seperti melihat gambar, foto atau wujud asli dari lekuk tubuh lawan jenis (terutama wanita), atau menggunakan lidah untuk menggunjingkan orang lain, atau telinga untuk mendengar berita-berita gosip tentang kehidupan pribadi seseorang. Jika seseorang mampu berpuasa akan hal-hal seperti di atas maka ia telah berhasil masuk ke dalam tingkatan puasa khusus. Sebuah tingkatan satu tingkat lebih baik daripada seekor ulat.

Kupu-Kupu sebagai contoh orang yang berpuasa menjadi takwa

Jika kita mampu berpuasa pada tingkatan ini maka kita telah terhindar dari sabda Nabi yaitu:
“Beberapa orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus”
Artinya hadits di atas memang mengenai tingkatan puasa pertama. Jika puasa tingkatan pertama untuk anak-anak maka inilah bentuk latihan kita sebagai belajar dari seekor ulat, tetapi ini tidaklah wajar bagi yang sudah akhil baligh dan secara fisik dan mental sudah kuat dari sekedar menahan lapar dan haus.

Tingkatan ketiga dari puasa yang dijelaskan oleh Imam Ghazali adalah puasa khusus dari khusus. Inila puasa para nabi dan puasa orang-orang yang sudah sangat terlatih. Apa yang dimaksud sudah terlatih? Tentu puasa pada tingkatan ini menahan lapar, haus dan hasrat seksual sudah sangat terlatih dan juga demikian halnyadengan hawa nafsu pada inderanya.

Puasa pada tingkatan ketiga ini lebih jauh dari di atas tadi. Ia adalah puasa hati.
Apa yang dimaksud dengan puasa hati ini?
Ia adalah puasa tidak hanya menahan lidah, mata, telinga, tangan, kaki, perut dan di bawah perut dari hal-hal yang merusak puasa tetapi juga menahan hatinya dari hal-hal yang merusak hati.

Yang dimaksud adalah tidak ada lagi sedikitpun dalam hatinya ada rasa dengki, iri, sombong, bahkan bisikan-bisikan rasa menilai orang lain rendah dari pada dirinya.
Contoh yang mudah adalah seseorang merasa turut bahagia terhadap rekan kerjanya yang merupakan saingannya dalam merainh posisi di suatu perusahaan karena teman kerjanya mendapatkan promosi jabatan yang seharusnya ia juga mendapatkan hal yang sama.

Hatinya tidak sedikitpun terlintas rasa kesal, dengki atau menyesal. Ia bersyukur terhadap nikmat yang Allah anugerahi terhadap rekan kerjanya tadi dan ia tetap bekerja seperti biasa, seolah-olah tidak ada sesuatu hal yang berbeda pada lingkungan kerjanya, meski rekan kerjaya tadi telah menjadi atasannya yang baru.
Bagi para sufi, jika hati seseorang masih terbesit sedikit rasa dengki dan ia dalam keadaan berpuasa maka nilai puasanya dianggap tidak sempurna bahkan dianggap telah batal secara spiritual, tidak secara jasmani.

Jika kita berpuasa dan sengaja makan dan minum maka puasa kita batal secara jasmni dan spiritual, tetapi pada puasa pada tingkatan ketiga ini hanya batal secara spiritual saja. Demikian menurut sufi yang memang sangat menjaga hati. Mengapa demikian?

Karena puasa adalah ibadah rahasia, ibadah yang tidak tampak, tidak hanya ketidaktampakkannya pada apakah seseorang itu berpuasa atau tidak tetpai pada ketidaktampakkan gerak-gerik hati manusia.

Itulah mengapa Allah mengatakan bahwa puasa itu ibadah untuk-Nya, dan Allah yang akan membalasnya sesuai kerahasiaan puasa tersebut.

Kembali pada puasa hati tadi. Inilah sinyal yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa pada bulan Ramdahan setan-setan terbelenggu karena ia terbelenggu oleh benteng yang kokoh pada puasa hati. Segala bisikan setan yangmerusak hati mampu disingkirkan oleh orang yan berpuasa pada tingkatan ketiga ini. Tidak hanya itu saja, puasa pada tingkatan ketig ini juga puasa hati dari segala hal duniawi yang merusak pada zikir kepada Allah.

Oleh karenannya, Nabi menyarankan pada bulan Ramadhan umat Islam lebih banyak di masjid untuk beritikaf dalam rangka latihan menuju puasa tingkatan ketiga ini. Pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan Nabi sama sekali tidak pulang ke rumah. Beliau beri’tikaf secara rutin dan ketat di dalam masjid. Ini semua untuk memberi contoh kepada umatnya bagaimana kit agar meraih puasa ini tidak hanya pada tingkatan pertam dan kedua tetapi lebih dari itu.

Jika seekor ulat mampu puasa dan “beri’tikaf” di dalam kepompongnya dan pada masa akhir “bulan Ramadhannya” ia menjadi makhluk “suci” yang baru yaitu kupu-kupu, maka kita melakukan seperti yang dicontohkan oleh Nabi maka kita menjelma lebih dari seekor kupu-kupu.

Puasa hati, I’tikaf dan berzikir selama di bulan Ramadhan maka kita menjadi manusia “baru” pada 1 Syawal untuk menuju ke bulan Ramadhan berikutnya, kalau kita memang masih diberi hidup oleh Allah.

Sekarang mari kita melihat disekeliling kita. Mengapa Indonesia yang mayoritas umat Islam banyak di antara mereka berpuasa di bulan Ramadhan tetapi fakta yang ada negara ini jauh dari harapan Nabi yaitu mereka menjelma menjadi manusia-manusia yang bermanfaat seperti kupu-kupu?

Boleh jadi karena mereka berpuasa seperti seekor ular. Tahukah anda bagaiamana puasa seekor ular? Ular juga berpuasa, dan tidak hanya ulat atau ular bahkan di banyak binatang di dunia ini juga berpuasa dengan cara yang berlainan satu sama lain.
Ular berpuasa pada saat ia dalam proses pergantian kulit. Seperti yang kita ketahui seekor ular jika makan mangsanya maka ia akan menelan bulat-bulat mangsanya tersebut meski mangsanya lebih besar dari mulut dan tubuhnya. Elastisitas tubuh dan kulitnya ini memampukan seekor ular melakukan hal demikian. Tetapi tidak pada saat ia sedang dalam proses pergantian kulit.


Ia tidak akan memangsa seekor tikus yang berlalu di depan matanya karena ular tahu jika ia memangsanya pada saat proses pergantian kulit belum selesai maka sama saja membunuh diri sendiri. Kulit yang baru akan rusak sementara kulit yang lama sudah “kadaluwarsa” jika ia tetap mencaoba memangsa tikus tersebut.

Maka dengan segala kesabarannya ular tersebut berpuasa dan membiarkan tikus tadi berlalu begitu saja meski ia dalam proses yang berat dan membutuhkan energi yang besar dalam pergantian kulit. Tetapi tahukah Anda apa yangterjadi ketika proses pergantian kulit tadi telah selesai?

Ular tersebut menjadi sangat buas dan ia mencari ke sana –sini tikus tadi. Rasa lapar, kehilangan energi dan rasa “gemas” karena seekor mangsa yang lezat berlalu begitu saja membuat ular tadi begitu “beringas” dari sebelumnya.

Jika kita manusia berpuasa seperti puasanya ular ini maka selepas Ramadhan kita menjelma menjadi manusia-manusia yang tidak hanya makan nasi dan lauk-pauk yang lezat tetapi juga “makan” gelondongan kayu, minyak, batu bara, dan jabatan.

Ular mampu menelan bulat-bulat mangsanya meski mulut dan perutnya lebih lecil dari pada mangsanya. Demikian pula manusia. Ia juga “buas” mampu “menelan” bulat-bulat korupsi “makan” uang, harta dan jabatan yang semuanya secara jasmani tidak mungkin ditelan oleh mulut dan perutnya.

Jika seekor ulat yang lemah mampu berpuasa dan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah adalah tidak pantas kita yang kuat mampu mengakat benda 1 kg tidak berpuasa. Jika kita tidak berpuasa maka kita lebih rendah derajat kita dari seekor binatang: ulat.

Tetapi jika kita berpuasa dan tidak merubah diri kita lebih baik dan berpuasa seperti seekor ular maka sama saja kita berpuasa dan memakai baju baru pada hari Idul Fitri tetapi sifat "buas" masih tersimpan dalam diri kita. Kita tidak jauh beda dari seekor ular.


Surga dan orang bertakwa sama halnya taman bunga dan kupu-kupu

Jadi berpuasa yang manakah kita selama ini? Seekor ulat atau satu atau dua tingkat lebih baik dari ulat atau berpuasa seperti seekor ular? Ah, itu semua kembali kepada kita apakah kita menyambut panggilan mesra dari Allah: ‘Hai orang-orang yang beriman”, berpuasalah agar menjadi seekor “kupu-kupu” indah di taman surga Allah di akhirat kelak (orang bertakwa).

Bagaimana pendapat Anda?

1 komentar:

catatan salwangga mengatakan...

dalem dan tajem. telah lebih tigaluluh tiga tahun saya menghirup udara dunia. telah lebih berpuluh kali mendengar para kiai menyampaikan perihal sama sebagaimana topik ini.

nyatanya, saya, tetap saja belum mampu menyerap dengan semestinya.

saya masih saja memilah dan memilih antara hamburger, sate, pizza, atau cukup singkong keju yang hendak dimakan. saya masih memanjakan lidah saya untuk menikmati gurih, manis, lezat, legit, demi memanjakan lidah ini. padahal, ya padahal...

padahal, yang saya perlukan sejatinya adalah zat intinya. protein, karbohidrat, vitamin, mineral.

lantas, apakah masih begitu penting soal wujud dan rasa? inilah yang masih menjadi perdendangan dalam dada ini.

salam kenal,