Jumat, 30 Januari 2009

Fenomena Aha Eureka dan Sholat: Perpaduan Sempurna anatara Pikir dan Zikir (3, terakhir)

Terima Kasih kepada Anda yang telah membaca artikel penulis sebelumnya dan berharap agar artikel ini diterbitkan. Penulis mohon maaf karena kesibukan di kantor menyebabkan baru kali ini penulis menerbitkan kepada Anda, pembaca yang budiman, artikel berseri ini. Selamat membaca dan selamat ber-aha eureka!
Dalam tulisan sebelumnya, ada pernyataan begini: Toh tanpa sholat lima waktu saya merasa tentram dan hidup saya pun berpikir dengan baik dan bersikap tenang, untuk apa saya harus capek-capek melakukan sholat!
Pembaca yang budiman bersiaplah untuk menemukan jawaban dahsyat untuk pernyataan di atas. Bacalah ayat berikut ini:
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ {27} ارْجِعِي إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَةً {28} فَادْخُلِي فيِ عِبَادِي {29} وَادْخُلِي جَنَّتِي {30}
Hai jiwa yang tenang. (QS. 89:27)
Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:28)
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, (QS. 89:29)
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:30)

Secara sederhana ayat di atas membantah pernyataan bahwa orang-orang yang hidup tenang dalam keadaan alfa selama di dunia tapi tidak melalui jalan seperti apa yang penulis paparkan sebelumnya maka keadaan alfanya hanya selama keberadaanya di dunia saja, tetapi di akhirat nanti dulu. Hanya orang-orang yang melalui tahapan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saja maka keadaan alfanya di dunia dan akhirat. Mengapa demikian?

Jika Anda membaca ayat di atas maka ayat tersebut memanggil dengan mesra orang-orang yang dalam keadaan alfa/tenang di akhirat bukan di dunia. Dengan demikian jika Anda sholat dengan baik maka Anda akan meraih keadaan alfa dunia dan akhirat. Yang perlu diingat adalah keadaan alfa di akhirat ini hanya masing-masing kita yang akan mengetahuinya, dan ini terjadi pada saat bagaimana keadaan ruh kita dijemput oleh malaikat maut. Apakah ruh kita dalam keadaan alfa atau tidak. Dan Andalah yang mulai berkarya untuk menuju ke sana mulai saat ini juga.

Ayat di atas juga sebagai jawaban bantahan untuk orang-orang yang berpahaman iling yang hanya sekedar mengingat Tuhan tetapi tanpa melalui sholat. Dan ayat ini juga menjadi bantahan bagi yang melakukan teknik yoga sebagai jalan menuju keadaan alfa sementara ia adalah muslim. Bagi seorang muslim cukuplah dengan sholat dan zikir ajaran Rasulullah sebagai jalan menuju keadaan alfa, dan bukan dengan teknik yang lain. Jika Anda mengunjugi situs www.superbrainyoga.org maka Anda akan diantar bagaimana membuat otak Anda menjadi powerful melalui teknik yoga. Boleh jadi benar melalui teknik yoga kita sampai ke keadaan alfa yang hebat tetapi untuk mencapai keadaan alfa di akhirat nanti dulu. Yoga, meski saat ini dipoles hanya merupakan gerakan tubuh seperti olahraga, adalah ritual khusus agama Hindu untuk menuju Moksa.

Yoga, olah tubuh ala agama Hindu

Kembali permasalahan sholat, pada saat ini banyak sekolah-sekolah yang mulai tergiur dengan teknik mind-mappingI dalam metode pembelajaran. Penulis sebagai praktisi pendidikan juga mendapatkan hal yang sama di institusi penulis sendiri. Apa yang didapatkan oleh penulis di institusi adalah melalui buku karya Adam Khoo “I am Gifted So Are You!” ini member motivasi bahwa seseorang itu memiliki bakat yang terpendam. Dan Adam Khoo juga mengupas sedikit bagaimana powerfulnya otak kita. Dengan teknik mind-mapping sebagai metode belajar sistem hapalan, Adam Khoo memberi model mid-mapping¬-nya sesuai karya Tony Buzan.


Dalam buku tersebut disebutkan betapa supernya otak kita untuk menghapal sesuatu. Saat itu di institusi penulis diadakan pelatihan akan hal ini, dan kami mencoba untuk mengingat kembali apa yang kami pelajari. Dan selanjutnya dari ucapan pelatih, ia mengatakan bahwa Tony Buzan memiliki daya ingat yang luar biasa dalam menghapal sekitar 100 identitas mahasiswanya. Dan ini contoh bagaimana teknik ini begitu hebat untuk membantu seseorang mengingat sesuatu.

Sampai di sini, ketika penulis mendapatkan waktu untuk berbicara, penulis menceritakan bagaimana powerful-nya daya ingat para imam besar umat Islam seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Syafii dan yang lain-lain dalam menghapal hadits. Penulis mengambil contoh bagaimana powerful-nya Imam Bukhari dalam menghapal ribuan hadits Nabi. Dan ketika beliau diuji oleh para ulama akan hapalannya, yang menjadi luar biasa adalah beliau mampu membetulkan letak kalimat-kalimat hadits (matan hadits) meski diacak oleh para ulama, dan ini ribuan hadits yang diacak untuk mengetes beliau sampai seberapa baik daya ingatnya. Fantastisnya, Imam Bukhari mampu memperbaiki semua matan hadits yang telah diacak tadi oleh para ulama tadi meski jumlah hadits yang dites ribuan.

Apa yang dialami oleh Imam Bukhari dalam daya ingat yang luar biasa juga dialami oleh Imam Muslim. Berbeda dengan Imam Syafii yang secara tradisional adalah berbangsa Arab yang memiliki kemampuan hapalan secara turun temurun melalui cerita lisan baik itu silsilah keluarga atau cerita rakyat, maka Imam Bukhari tidak demikian. Imam Bukhari lahir bukan dari bangsa Arab, tapi memiliki daya ingat yang luar biasa. Adapun Imam Syafii, secara sosiologi beliau memiliki kemampuan daya ingat hebat ditambah lagi dengan kebersihan hati dan keajegkan beliau berinteraksi dengan Al Qur’an maka menjadikan beliau Imam yang disegani.

Ini semua berawal dari keadaan alfa mereka yang powerful yaitu sholat dan zikir yang lain seperti membaca Al Qur’an dan puasa. Dengan powerful zikir ini menghadirkan kepada kita bagaimana prestasi berkarya mereka baik melalui hadits maupun tafsir hingga hari ini.

Kembali ke teknik mind-mapping yang memberi metode belajar dengan daya ingat, sebenarnya kalau para siswa semenjak dini didik untuk selalu membaca dan menghapalkan Al Qur’an maka daya ingat mereka sangat powerful dan tidak perlu lagi membutuhkan teknik mind-mapping untuk mengingat sesuatu. Hal ini sudah terbukti oleh banyak ilmuwan muslim masa lalu yang jauh masa hidupnya dengan Tony Buzan.

Kembali ke masalah sholat. Dalam sholat ada istilah untuk melakukan gerakan sholat dengan tumaninah. Sebenarnya kata ini berarti dengan tenang. Artinya jika kita telah melakukan sholat tapi dengan tidak tumaninah maka sholat kita belum sampai ke perwujudan tumaninah atau dalam keadaan alfa. Ini sebabnya pula dalam sholat kita benar-benar membaca do’a dengan tenang, gerakan dengan tenang, membaca ayat dengan tenang. Jika apa yang kita lihat tradisi sholat tarawih selama ini dengan 23 rakaat banyak yang melakukannya dengan cepat dan cenderung untuk tidak tumaninah. Ibarat mengejar target jam sekian harus sudah selesai 23 rakaat sholat tarawin tersebut. Akibatnya adalah selepas bulan Ramadhan maka efek dahsyat dari sholat pun belum tampak karena sholat yang tidak tumaninah tadi. Efek dahsyat dari sholat selain keadaan alfa adalah mencegah seseorang untuk menuju ketidak-tenangan sosial yaitu amar ma’ruf nahi munkar: Al Ankabuut 45

إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ

Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan kei dan munkar.

Sholat (lima waktu) merupakan satu-satunya ibadah wajib yang harus dikerjakan selama otak kita sadar, meski anggota tubuh yang lain sudah tidak berfungsi. Jika seseorang tidak bisa sholat dengan berdiri maka ia diperbolehkan duduk, jika tidak bisa duduk maka berbaring, jika terbaring semua anggota tubuh tidak berfungsi untuk digerakkan maka dalam hati dan inilah tingkat terakhir untuk mengerjakan sholat demi perwujudan kita sebagai hamba Allah. Dan ini juga menyatakan bahwa otak kita benar-benar sebagai pusat kesadaran untuk beribadah untuk meraih keadaan alfa dunia – akhirat.

Tetap sholat selalu meski di atas padang pasir

Pembaca yang budiman, otak sebagai makhluk Allah yang hebat ini juga diisyaratkan sebagai mahkota manusia. Ia berada di paling atas dari anggota tubuh kita. Begitu terhormatnya otak ini maka manusia yang telah jadi mayat pun ketika disholatkan maka posisi imam harus berada di bagian kepala sang mayat. Ini menunjukkan sebagai penghormatan manusia atas kehebatan dirinya melalui otak. Sementara untuk wanita posisi imam berada di bagian perut menunjukkan penghormatan posisi wanita atas rahimnya yang penuh dengan kasih sayang.

Otak kita benar-benar hebat

Itu sebabnya manusia harus sholat dan sujud kepada Allah agar posisi kepalanya yang tadinya di posisi teratas harus menjadi posisi terbawah ketika sedang sujud. Ini menunjukkan tiada artinya otak manusia ini dihadapan penciptanya yaitu Allah subhanuwatalla. Dan dalam haji pun umat Islam harus mencukur rambutnya sebagai perwujudan “mahkota” kepala harus “diruntuhkan” demi perwujudan hamba yang sempurna setelah melakukan rangkaian ibadah haji.

Sekali lagi, meski di Barat ada teknik belajar cepat dengan mengoptimalkan kemampuan otak (bagian kanan terutama) dengan mind-mapping sejatinya umat Islam telah memiliki bekal hebat melalui sholat dan Al Qur’an. Dengan demikian kita akan selalu diberi “sesuatu” oleh Allah ketika kita menghadapi masalah yang belum terjawab dalam pengetahuan dengan seruan klasik ala Archirmedes: Aha Eureka!

Jika Ibnu Sina bisa kenapa kita tidak bisa? Lebih rendah lagi, jika Tony Buzan bisa mengapa kita tidak lebih baik dari dia? Jika Tony Buzan tidak sholat dan membaca Al Qur’an bisa mengapa kita tidak bisa? Jika Archimedes seorang pagan bisa mengapa kita tidak bisa ber-aha eureka?

Anda bisa dan pasti bisa dan juga saya. Kuncinya adalah mengoptimalkan otak kita dengan sholat dan Al Qur’an maka aha eureka! Akan hadir di otak kita. Sebagai penutup mari kita renungkan kalimat indah dari Imam Syafii yang beliau dapatkan dari gurunya, Waqi’:

Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.

Semoga ini bermanfat untuk saya dan Anda. Terima kasih, Allahu Akbar! Selamat ber-aha eureka! Selalu!

(Artikel ini akan berlanjut tentang puasa dan fenomena aha eureka!. Selamat menunggu)

Minggu, 14 Desember 2008

Fenomena Aha Eureka dan Sholat: Perpaduan sempurna antara Pikir dan Zikir (2)

Bagaimana kaitan sholat dengan sebuah kreativitas seseorang? Betulkah sholat menghasilkan sebuah pikiran yang mampu meledakkan sebuah ide yang dahsyat?

Pembaca yang budiman, artikel ini akan menjawab dua pertanyaan di atas. Sebelumnya penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah member komentar atas artikel pertama penulis. Sebagai ucapan terima kasih kembali kepada Anda semua yang telah membaca artikel sebelumnya, penulis melanjutkan kelanjutan artikel pada edisi ini.

Sebelum kita menengok kaitan sholat dengan sebuah kreativitas, ada baiknya jika kita menengok otak kita yang penuh misteri tersebut. Kita hidup di zaman teknologi yang begitu canggih dan yang terus mengalami pembaruan-pembaruan, dan itu semua diciptakan oleh otak dari sebuah ide yang terlintas di dalamnya. Namun, uniknya adalah meski semua manusia memiliki kesamaan otak secara biologis, tidak semua di antara kita mampu menciptakan sebuah ide brilian atau sebuah rumus yang sama atau lagu yang sama . Ambil contoh nyata adalah pemusik hebat Kitaro. Jika Anda adalah seorang musisi hebat, dan juga mencintai suasana alam yang indah, penulis yakin Anda tidak mungkin menciptakan sebuah lagu yang sama persis seperti yang dibuat oleh Kitaro meski Anda duduk di sebuah kolam ikan Koi dan nada musik pun tidak berubah dari do,re,mi,fa,sol,la,si,do. Aneh tapi nyata.

Keanehan otak inilah menjadi misteri tetapi juga menghasilkan jutaan ide yang hebat yang pernah dihasilkan oleh manusia. Sebuah lampu yang menyala di kamar kita ternyata berawal dari sebuah ide sederhana Thomas Alva Edison dengan pencapaian melalui percobaan yang tidak kenal lelah. Lalu, bagaimana ide dahsyat ini terjadi?

Hans Berger, seorang ahli saraf dari Jerman pada 1924 berhasil merekam gelombang listrik otak dalam selembar kertas yang mana gelombang ini telah diketahui sebelumnya sejak 1875 di mana seorang dokter Inggris, Richard Caton mencatat adanya gelombang ini. Ternyata dalam otak terdapat aliran listrik dan listrik ini menghasilkan gelombang otak yang memiliki frekeunsi tertentu, tergantung pada keadaan kita sendiri.

Ada empat jenis gelombang otak yang telah direkam oleh para ahli. Keempat gelombang tersebut sangat terkait dengan keadaan emosi kita. Keempat gelombang tersebut adalah delta, teta, alpha, dan beta. Gelombang delta memiliki frekuensi antara 0,5-3,5 Hz. Gelombang ini terjadi ketika kita sedang tidur pulas dan tidak mengalami mimpi. Otak kita pada saat ini benar-benar "tidak bekerja". Dan keadaan delta ini sangat baik dalam proses penyembuhan penyakit. Oleh sebab itu ada beberapa obat yang menggunakan obat tidur agar otak turut istirahat sekaligus membantu tubuh untuk tidak bekerja keras dalam keadaan sakit.

Gelombang kedua adalah teta. Kisaran frekuensinya adalah 3,5-7Hz. Pada saat kita tidur dan mengalami mimpi maka pada saat itu otak kita dalam keadaan teta. Keadaan teta ini juga baik untuk penyembuhan penyakit. Keadaan mimpi ini pula mampu mengantar manusia ke sebuah alam 'kreatif' yang tanpa ia rekayasa sendiri. Sebuah ide hebat dapat muncul dari tidur dan mengalami mimpi ini, sebab otak pada saat itu bekerja secara baik, jernih dan bening. Mimpi memang 'bunga tidur', tetapi jika mimpi itu dihasilkan oleh manusia tertentu yang mengalami kondisi sadar yang baik seharian maka mimpinya adalah sebuah "alam aktif" yang ia sendiri tidak menciptakannya sendiri. Mimpi para nabi dan orang sholeh merupakan contoh tepat untuk otak dalam keadaan teta ini, seperti mimpi Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yusuf a.s. Dan mimpi hingga kini menjadi misteri para ahli, sebab bagaimana bisa seseorang dapat menghasilkan ide hebat sementara ia sendiri 'tidak aktif' berpikir karena sedang tidur pulas. Juga mimpi ini menjadi pertanyaan yang sama pada binatang yaitu apakah semua binatang juga mengalami mimpi?

Gelombang ketiga adalah alfa. Gelombang inilah yang akan menjadi pokok pembicaraan kita dalam artikel dan bagaimana hubungannya dengan sholat, oleh karena itu kita tinggalkan sementara gelombang ini.

Gelombang keempat adalah beta. Secara umum, ketika kita dalam keadaan terjaga, dan ketika pikiran kita dalam keadaan siaga, maka otak kita dalam keadaan beta. Namun, gelombang ini juga terjadi jika pikiran kita kacau pada sesuatu masalah, atau kita dalam keadaan bingung, sulit berkonsentrasi, stress, frustasi, cemas, gelisah dan sebagainya. Hal ini dikarenakan frekuensi beta di kisaran di atas 13 Hz. Jika semakin besar frekuensinya maka keadaan otak benar-benar bekerja hebat secara 'rumit' untuk berpikir.

Kini kita kembali ke gelombang alfa. Gelombang ini berkisaran 7-13 Hz. Sebuah gelombang yang menjadi idaman bagi masyarakat perkotaan atau bagi mereka yang dilanda kekacauan berpikir, masalah berat dan stress.

Gelombang alfa adalah keadaan pada saat kita sadar sementara otak mengalami relaksasi yaitu otak sedang santai, tidak berpikir "bercabang" tetapi otak pada saat ini juga siap meledakkan sebuah ide hebat yang timbul secara tiba-tiba. Masih ingatkah Anda pada cerita Archimedes di artikel pertama penulis? Archimedes berteriak "Aha eureka!" ketika ia sedang dalam keadaan alfa. Membiarkan dirinya berendam di dalam air, memanjakan dirinya setelah lelah berpikir, membiarkan otaknya santai sejenak karena lelah mencari jawaban yang juga belum ketemu, dan berrelaksasi sejenak, Archimedes menjadi seorang hebat ternama hingga kini hanya karena ia dalam keadaan alfa.

Aha Eureka! Archimedes berhasil mendapatkan jawaban. Ini terjadi setelah ia berpikir rumit atau ia dalam keadaan frekuensi di atas 13 Hz, lalu ia memutar gelombang otaknya turun ke kisaran 8 Hz, terjawablah pertanyaan raja yang sederhana tetapi membutuhkan jawaban yang cerdas. Jelas, proses yang dialami Archimedes adalah proses yang panjang untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Lalu apakah ini bisa diraih oleh kita melalui sholat? Pembaca yang budiman bersiaplah untuk ber-aha eureka!, karena Anda akan diantar pada mukjizat Al Qur'an yang belum diangkat oleh penulis lain.

Gelombang Alfa, Sholat dan Kreatifitas

Aha Eureka ya Allah! Ini pula yang penulis ucapkan dalam hati ketika membaca ayat-ayat Al Qur'an yang dibuktikan kebenarannya secara nyata dan ilmiah oleh mereka yang tidak atau belum beriman pada Al Qur'an. Sebagai pengantar penulis mengajak kepada Anda satu ayat Al Qur'an yang begitu dahsyat, powerful dan begitu high tech di masa mendatang nanti. Bacalah ayat berikut ini, ingat ayat ini turun di abad ke-7, dan kita hidup di abad ke-21:

سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي اْلأَفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk (makrokosmos) dan pada diri mereka sendiri (mikrokosmos) , sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. (QS 41: 53)

Pembaca yang budiman ayat di atas terbukti pada penelitian otak lebih khusus pada pembicaraan kita ini, gelombang alfa. Mari lanjutkan baca ayat berikut ini:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. 13:28)


 

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي

dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. 20:14)


 

Kini mari kita menuju bagaimana powerfulnya Al Qur'an dalam masalah gelombang alfa ini.

Seorang dokter Amerika, Herbert Benson yang sering berkunjung ke Tibet dan mempelajari teknik yoga, dalam situs resminya mengatakan bahwa kesehatan tubuh manusia sangat tergantung pada sejauh mana otaknya mengalami relaksasi. Sebagai seorang dokter yang hidup di sebuah negara besar dan berteknologi tinggi, Herbert Benson menyatakan bahwa metabolism tubuh yang baik sangat tergantung pula pada sejauh mana otaknya dalam keadaan alfa. Para pasien Herbert Benson yang pada umumnya mengalami keadaan stress disarankan olehnya untuk berelaksasi dengan teknik yoga atau meditasi. Meditasi ini dapat membangkitkan respon relaksasi. Ingatlah bahwa kata relaksasi dari bahasa Inggris yaitu relax yang menurut kamus Collins yaitu : feel more calm, less worried or tense. Sedang menurut Oxford relax adalah make or become less tense atau cause a limb or muscle to become less rigid. Secara singkat kata relaks diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah keadaan tenang. Dan kata inilah kata kunci kita menuju powerfulnya Al Qur'an.


 

Pembaca yang budiman bacalah kembali ayat di atas. Kata kunci di ayat tersebut adalah iman, tenteram atau keadaan tenang, dan mengingat Allah (zikirullah). Tiga kata kunci ini dibuktikan langsung oleh Herbert Benson dalam konteks gelombang alfa.

Kembali ke situs resmi Herbert Benson, ia member tahapan-tahapan relaksasi sebagai berikut:

  1. Pilih kalimat pendek.
  2. Duduk tenang dalam posisi nyaman
  3. Tutup mata perlahan
  4. Kendurkan otot tubuh
  5. Tarik napas perlahan dan teratur. Secara bersamaan, ulangi kata atau kalimat yang menjadi fokus.
  6. Lakukan selama sepuluh atau dua puluh menit
  7. Saat usai, jangan langsung berdiri. Teruslah duduk tenang selama satu menit atau lebih.
  8. Lakukan kegiatan ini minimal satu kali sehari


 

Apa yang Herbert Benson sarankan melalui terapi meditasi telah jauh diajarkan lebih dahulu oleh Rasulullah melalui sholat dan zikir setelah sholat. Dan ini wajib dilakukan minimal lima kali sehari, mengisyarakat kepada kita agar kita terus menjaga otak kita untuk selalu dalam keadaan alfa yang powerful.


 

Pembaca yang budiman, jika Anda seorang warga Amerika, tinggal dekat klinik Herbert Benson dan mengalami stress, penulis yakin Anda akan mengunjungi beliau untuk mengatasi masalah Anda dengan teknik meditasi yang beliau ajarkan. Tetapi jika Anda seorang yang beriman, menjaga sholat Anda dan mengalami sebuah masalah pelik, penulis yakin Anda cukup berzikir kepada Allah baik melalui sholat atau berzikir diluar sholat maka permasalhan pelik tadi tidak akan bernaung di otak Anda karena Anda selalu dalam keadaan alfa.

Dengan sholat, kita menjaga otak kita selalu dalam keadaan alfa, dan yang perlu diingat adalah sholat yang sesuai diajarkan oleh Rasulullah. Jika selama ini kita sholat tetapi masih risau pula hati kita dan permasalahan yang ada selalu menghantui kita maka yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah bagaimana kualitas sholat kita. Sudahkah sempurna dalam berwudhu, pelaksanaan sholat, bacaan sholat, gerakan sholat, dan juga niat yang ikhlas? Jika semua sudah sempurna, penulis percaya permasalahan duniawi yang pelik akan menjadi hal yang tidak berarti di otak kita. Hal ini disebabkan kita mendapat ketenangan dari Allah melalui malaikat-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. 41:30)


 

Ketenangan atau dalam bahasa ilmiah tentang otak adalah dalam keadaan alfa akan terjadi jika kita tetap berzikir kepada Allah di mana saja kita berada. Lidah Nabi Muhammad SAW tidak pernah berhenti berzikir kecuali di dalam kamar mandi, oleh karena itu setelah keluar dari kamar mandi beliau mengucapkan gufronaka yang artinya "ampunilah kami" karena lidah beliau selama di kamar mandi tidak berzikir, kecuali hati saja. Luar biasa. Dan bagaimana powerful zikir Rasulullah kepada Allah dapat kita lihat dalam sejarah ketika beliau berhijrah ke kota Madinah. Ada dua kali situasi genting Rasulullah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq, dan kedua situasi genting tersebut beliau hadapi dengan tenang atau beliau dalam keadaan alpha yang powerful. Bacalah ayat berikut:


 

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْأَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْهُمَا فِي الْغَارِ إِذْيَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَتَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {40}

Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:"Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita". Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:40)


 

Situasi pertama ini terjadi di dalam gua Tsur pada saat dikejar oleh kaum kafir Quraish. Situasi kedua adalah ketika Nabi sedang duduk beristirahat menjelang sampai di kota Madinah, tiba-tiba muncul Suraqah, salah satu kaum kafir Quraish menghunus pedang persis di dada Rasulullah sambil berkata: " Hai Muhammad kini siapa penolongmu dalam situasi begini?". Dengan penuh ketenangan dan mantap Nabi menjawab satu kata saja: "Allah". Tiba-tiba terlepas pedang tersebut dari tangan Suraqah dan ia pun jatuh lemas tak berdaya.

Bagaimana dengan kita?

Keadaan alfa dapat kita raih secara baik melalui sholat. Hal ini disebabkan pada saat kita sholat kita terfokus pada bacaan-bacaan yang menurut Herbert Benson di atas mampu menghambat kerja system syaraf simpatis yang mengatur kecepatan denyut jantung, nadi dan metabolism. Dengan keadaan demikian maka aliran darah ke otak menjadi lancer dan baik lalu membuat otak dapat berpikir dengan jernih. Jika ia adalah imuwan yang menekuni bidang berkaitan dengan ayat-ayat kauniyah (makhluk-makhluk ciptaan Allah di alam semesta) maka ide sederhana mampu menciptkan karya hebat. Tengok saja berapa banyak ilmuwan muslim yang hingga kini menjadi rujukan ilmuwan barat. Ambil contoh yang mudah adalah Ibnu Sina. Karyanya hingga kini merupakan 'kitab suci' yang wajib dipelajari bagi ilmu kedokteran di barat.

Keadaan alfa dan sholat kemudian kreatifitas berpikir akan ayat-ayat kauniyah ini dijuluki oleh Allah dengan istilah terhormat "Ulul Albab". Bacalah ayat berikut ini:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ {190} الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَاخَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190)

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)

Demikianlah apa yang dinyatakan dalam Al Qur'an. Lalu jika ada pertanyaan, mengapa umat Islam saat ini jauh tertinggal dalam ilmu pengetahuan jika sholat memang menghadirkan sebuah kreatifitas tinggi? Jawabannya memang tidak sederhana. Tetapi mari kita tengok diri kita masing-masing, sudahkah kita sholat secara sempurna baik itu dari wudhu, pelaksanaan sholat, bacaan sholat, gerakan sholat, waktu sholat tepat waktu, berjamaah (terutama sholat shubuh) di masjid dan niat ikhlas karena Allah? JIka sudah mari kita tanyakan lagii pada diri kita sudahkah kita makan dan minum atau mencari rizki yang halal untuk darah kita yang mana darah tersebut mengalir ke otak? Jika sudah, mari kita bertanya lagi sudahkah kita mencintai ilmu sebagaimana para ilmuwan muslim dulu yang tidak mengenal lelah membaca, belajar mencari ilmu, meneliti dan berdiskusi hanya karena Allah? Jika sudah, mari bertanya berapa banyak kita membaca Al Qur'an daripada membaca Koran atau membaca buku? Jika sudah, mari kita bertanya sudahkah kita banyak berpuasa sunah seperti yang diajurkan oleh Rasulullah? Penulis akan membahas dalam artikel yang lain bagaimana kaitan puasa dan gelombang alfa ini.

Penulis yakin jika semua di atas telah dilakukan maka ketekunan dan keajegkan dalam keilmuwan akan mengantarkan umat Islam ke era yang hebat.

Yakinlah hal itu tinggal menunggu waktu jika memang umat Islam yakin pada apa yang ia kerjakan lima kali sehari: sholat.

Lalu ada pertanyaan begini: toh tanpa melalui sholat atau zikir seseorang bisa dalam keadaan alfa (tenteram), mengapa harus capek-capek mengerjakan sholat lima waktu dalam sehari, sedangkan hanya sekali melakukan teknik meditasi, katakanlah yoga, di pagi hari saja sudah cukup seseorang menuju gelombang alfa?

Pembaca yang budiman, silakan menunggu jawaban yang begitu dahsyat untuk pertanyaan di atas pada artikel selanjutnya. Ingatlah, kini banyak di kota-kota besar seperti Jakarta membuka klinik meditasi melalui yoga untuk berelaksasi dan mengatasi stress.

Artikel selanjutnya akan mengantar Anda ke Aha Eureka! yang lebih dalam lagi. Selamat menunggu dan teruslah ber-aha eureka! Allahu Akbar!


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Jumat, 05 September 2008

Ulat, Ular dan Puasa Kita

Marhaban ya Ramadhan, selamat berpuasa semua!

Artikel kali ini akan membahas sejauh mana kita berpuasa selama bulan Ramadhan agar nanti pada tanggal 1 Syawal kita menjelma menjadi manusia yang suci kembali.

Allah telah menciptakan alam ini sebagai bahan pembelajaran bagi manusia. Kita dapat membaca ayat Al Qur'an bagaimana manusia belajar pada burung gagak untuk menguburkan mayat. Ini terjadi ketika Qabil membunuh saudaranya Habil dan ia bingung dicampur menyesal luar biasa membawa-bawa mayat saudaranya, Habil. Allah mengutus 2 burung gagak yang saling berkelahi dan salah satunya mati kemudian yang lainnya menguburkan mayat di depan Qabil. Saat itu Qabil baru tahu bagaimana menguburkan mayat.

Kini mari kita belajar tentang puasa dari binatang lain: ulat dan ular.

Ulat, seekor binatang yang begitu lemah dan terkadang menjijikan di mata kita. Tubuh yang tidak punya tulang dengan bentuk tubuh yang ketika bergerak menggeliat-geliat, ternyata menjadi cermin hebat bagi kita umat Islam yan berpuasa setahun sekali di bulan Ramadhan. Ulat selama hidupnya hanya sekali berpuasa, tetapi ia menjadi contoh sempurna untuk tingkatan kita berpuasa.

Seperti yang kita ketahui bagaimana ulat berubah menjadi kupu-kupu dalam proses yang disebut metamorphosis. Dalam proses ini, ulat berpuasa: tidak makan dan minum, apalagi berhubungan seksual.



Seperti yang sering dikutip para ustadz dan ulama, tingkatan puasa dibagi tiga menurut Imam Ghazali yaitu:
1. Puasa orang awam
2. Puasa orang khusus
3. Puasa khusus dari khusus

Untuk tingkatan pertama, Imam Ghazali menyatakan bahwa puasa pada tingkatan ini hanya menahan lapar, haus dan hasrat seksual. Jika bercermin pada seekor ulat dalam proses metamorphosis maka puasa yang demikian setara dengan puasanya seekor ulat. Jadi jika selama ini kita berpuasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan hasrat seksual ternyata kita tidak jauh berbeda seperti seekor ulat.

Hanya saja ulat berpuasa menjelma jadi makhluk yang indah, sedap dipandang, bermanfaat dan terkadang menjadi bahan komoditi mahal bagi penggemar kolektor kupu-kupu langkah. Sementara kita yang puasa sekedar menahan lapar, has dan hasrat seksual tetaplah menjadi manusia biasa saja bahkan berstatus rugi di akhirat kelak.

Tingkatan puasa yang kedua yaitu puasa tidak sekedar menahan lapar, haus dan hasrat seksual tetapi juga menahan seluruh indra dan anggota tubuh terhadap hal-hal yang merusak nilai puasa, seperti melihat gambar, foto atau wujud asli dari lekuk tubuh lawan jenis (terutama wanita), atau menggunakan lidah untuk menggunjingkan orang lain, atau telinga untuk mendengar berita-berita gosip tentang kehidupan pribadi seseorang. Jika seseorang mampu berpuasa akan hal-hal seperti di atas maka ia telah berhasil masuk ke dalam tingkatan puasa khusus. Sebuah tingkatan satu tingkat lebih baik daripada seekor ulat.

Kupu-Kupu sebagai contoh orang yang berpuasa menjadi takwa

Jika kita mampu berpuasa pada tingkatan ini maka kita telah terhindar dari sabda Nabi yaitu:
“Beberapa orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus”
Artinya hadits di atas memang mengenai tingkatan puasa pertama. Jika puasa tingkatan pertama untuk anak-anak maka inilah bentuk latihan kita sebagai belajar dari seekor ulat, tetapi ini tidaklah wajar bagi yang sudah akhil baligh dan secara fisik dan mental sudah kuat dari sekedar menahan lapar dan haus.

Tingkatan ketiga dari puasa yang dijelaskan oleh Imam Ghazali adalah puasa khusus dari khusus. Inila puasa para nabi dan puasa orang-orang yang sudah sangat terlatih. Apa yang dimaksud sudah terlatih? Tentu puasa pada tingkatan ini menahan lapar, haus dan hasrat seksual sudah sangat terlatih dan juga demikian halnyadengan hawa nafsu pada inderanya.

Puasa pada tingkatan ketiga ini lebih jauh dari di atas tadi. Ia adalah puasa hati.
Apa yang dimaksud dengan puasa hati ini?
Ia adalah puasa tidak hanya menahan lidah, mata, telinga, tangan, kaki, perut dan di bawah perut dari hal-hal yang merusak puasa tetapi juga menahan hatinya dari hal-hal yang merusak hati.

Yang dimaksud adalah tidak ada lagi sedikitpun dalam hatinya ada rasa dengki, iri, sombong, bahkan bisikan-bisikan rasa menilai orang lain rendah dari pada dirinya.
Contoh yang mudah adalah seseorang merasa turut bahagia terhadap rekan kerjanya yang merupakan saingannya dalam merainh posisi di suatu perusahaan karena teman kerjanya mendapatkan promosi jabatan yang seharusnya ia juga mendapatkan hal yang sama.

Hatinya tidak sedikitpun terlintas rasa kesal, dengki atau menyesal. Ia bersyukur terhadap nikmat yang Allah anugerahi terhadap rekan kerjanya tadi dan ia tetap bekerja seperti biasa, seolah-olah tidak ada sesuatu hal yang berbeda pada lingkungan kerjanya, meski rekan kerjaya tadi telah menjadi atasannya yang baru.
Bagi para sufi, jika hati seseorang masih terbesit sedikit rasa dengki dan ia dalam keadaan berpuasa maka nilai puasanya dianggap tidak sempurna bahkan dianggap telah batal secara spiritual, tidak secara jasmani.

Jika kita berpuasa dan sengaja makan dan minum maka puasa kita batal secara jasmni dan spiritual, tetapi pada puasa pada tingkatan ketiga ini hanya batal secara spiritual saja. Demikian menurut sufi yang memang sangat menjaga hati. Mengapa demikian?

Karena puasa adalah ibadah rahasia, ibadah yang tidak tampak, tidak hanya ketidaktampakkannya pada apakah seseorang itu berpuasa atau tidak tetpai pada ketidaktampakkan gerak-gerik hati manusia.

Itulah mengapa Allah mengatakan bahwa puasa itu ibadah untuk-Nya, dan Allah yang akan membalasnya sesuai kerahasiaan puasa tersebut.

Kembali pada puasa hati tadi. Inilah sinyal yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa pada bulan Ramdahan setan-setan terbelenggu karena ia terbelenggu oleh benteng yang kokoh pada puasa hati. Segala bisikan setan yangmerusak hati mampu disingkirkan oleh orang yan berpuasa pada tingkatan ketiga ini. Tidak hanya itu saja, puasa pada tingkatan ketig ini juga puasa hati dari segala hal duniawi yang merusak pada zikir kepada Allah.

Oleh karenannya, Nabi menyarankan pada bulan Ramadhan umat Islam lebih banyak di masjid untuk beritikaf dalam rangka latihan menuju puasa tingkatan ketiga ini. Pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan Nabi sama sekali tidak pulang ke rumah. Beliau beri’tikaf secara rutin dan ketat di dalam masjid. Ini semua untuk memberi contoh kepada umatnya bagaimana kit agar meraih puasa ini tidak hanya pada tingkatan pertam dan kedua tetapi lebih dari itu.

Jika seekor ulat mampu puasa dan “beri’tikaf” di dalam kepompongnya dan pada masa akhir “bulan Ramadhannya” ia menjadi makhluk “suci” yang baru yaitu kupu-kupu, maka kita melakukan seperti yang dicontohkan oleh Nabi maka kita menjelma lebih dari seekor kupu-kupu.

Puasa hati, I’tikaf dan berzikir selama di bulan Ramadhan maka kita menjadi manusia “baru” pada 1 Syawal untuk menuju ke bulan Ramadhan berikutnya, kalau kita memang masih diberi hidup oleh Allah.

Sekarang mari kita melihat disekeliling kita. Mengapa Indonesia yang mayoritas umat Islam banyak di antara mereka berpuasa di bulan Ramadhan tetapi fakta yang ada negara ini jauh dari harapan Nabi yaitu mereka menjelma menjadi manusia-manusia yang bermanfaat seperti kupu-kupu?

Boleh jadi karena mereka berpuasa seperti seekor ular. Tahukah anda bagaiamana puasa seekor ular? Ular juga berpuasa, dan tidak hanya ulat atau ular bahkan di banyak binatang di dunia ini juga berpuasa dengan cara yang berlainan satu sama lain.
Ular berpuasa pada saat ia dalam proses pergantian kulit. Seperti yang kita ketahui seekor ular jika makan mangsanya maka ia akan menelan bulat-bulat mangsanya tersebut meski mangsanya lebih besar dari mulut dan tubuhnya. Elastisitas tubuh dan kulitnya ini memampukan seekor ular melakukan hal demikian. Tetapi tidak pada saat ia sedang dalam proses pergantian kulit.


Ia tidak akan memangsa seekor tikus yang berlalu di depan matanya karena ular tahu jika ia memangsanya pada saat proses pergantian kulit belum selesai maka sama saja membunuh diri sendiri. Kulit yang baru akan rusak sementara kulit yang lama sudah “kadaluwarsa” jika ia tetap mencaoba memangsa tikus tersebut.

Maka dengan segala kesabarannya ular tersebut berpuasa dan membiarkan tikus tadi berlalu begitu saja meski ia dalam proses yang berat dan membutuhkan energi yang besar dalam pergantian kulit. Tetapi tahukah Anda apa yangterjadi ketika proses pergantian kulit tadi telah selesai?

Ular tersebut menjadi sangat buas dan ia mencari ke sana –sini tikus tadi. Rasa lapar, kehilangan energi dan rasa “gemas” karena seekor mangsa yang lezat berlalu begitu saja membuat ular tadi begitu “beringas” dari sebelumnya.

Jika kita manusia berpuasa seperti puasanya ular ini maka selepas Ramadhan kita menjelma menjadi manusia-manusia yang tidak hanya makan nasi dan lauk-pauk yang lezat tetapi juga “makan” gelondongan kayu, minyak, batu bara, dan jabatan.

Ular mampu menelan bulat-bulat mangsanya meski mulut dan perutnya lebih lecil dari pada mangsanya. Demikian pula manusia. Ia juga “buas” mampu “menelan” bulat-bulat korupsi “makan” uang, harta dan jabatan yang semuanya secara jasmani tidak mungkin ditelan oleh mulut dan perutnya.

Jika seekor ulat yang lemah mampu berpuasa dan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah adalah tidak pantas kita yang kuat mampu mengakat benda 1 kg tidak berpuasa. Jika kita tidak berpuasa maka kita lebih rendah derajat kita dari seekor binatang: ulat.

Tetapi jika kita berpuasa dan tidak merubah diri kita lebih baik dan berpuasa seperti seekor ular maka sama saja kita berpuasa dan memakai baju baru pada hari Idul Fitri tetapi sifat "buas" masih tersimpan dalam diri kita. Kita tidak jauh beda dari seekor ular.


Surga dan orang bertakwa sama halnya taman bunga dan kupu-kupu

Jadi berpuasa yang manakah kita selama ini? Seekor ulat atau satu atau dua tingkat lebih baik dari ulat atau berpuasa seperti seekor ular? Ah, itu semua kembali kepada kita apakah kita menyambut panggilan mesra dari Allah: ‘Hai orang-orang yang beriman”, berpuasalah agar menjadi seekor “kupu-kupu” indah di taman surga Allah di akhirat kelak (orang bertakwa).

Bagaimana pendapat Anda?