Selasa, 13 Mei 2008

Aha Eureka! Yahudi: Berawal di Mesir Berakhir di Palestina (6)

Bab 7: Lahirnya nama Yahudi untuk Bani Israel



Peta kerajaan Judah (Yahuda) dan Israel

Pasca wafatnya Nabi Sulaiman pada 931 sM, Rehoboam, salah satu putranya, nak tahta untuk menjadi raja. Ketika ia menjadi raja, para tetuah Israel menjumpainya untuk menuntut ganti rugi atas keluhan-keluhan politis dan religius. Dan sang juru bicara mereka adalah Jeroboam, seorang jenderal Israel yang telah kembali dari pengasingannya di Mesir karena melarikan dari kegagalan kudeta atas kekuasaan pemerintahan Nabi Sulaiman.

Rehoboam menolak mendengarkan suara konsiliasi dan moderat. Sebaliknya, ia mengirimkan angkatan bersenjata melawan Israel namun ia kalah telak. Kekalahan ini dimanfaatkan oleh Jeroboam untuk membentuk kerajaan baru, kerajaan Israel.

Pecahlah kerajaan yang telah dirintis oleh Nabi Daud hingga Nabi Sulaiman menjadi dua kerajaan baru: Judah (Yahuda)dengan rajanya Rehoboam di wilayah Selatan dengan ibu kotanya Jerusalem dan Israel di wilayah Utara dengan ibu kotanya Syakem dan rajanya adalah Jeroboam.

Kerajaan Judah didukung oleh dua suku dari bani Israel sementara kerajaan Israel didukung oleh 10 suku. Perpecahan ini terus berlangsung hingga 100 tahun lamanya.

Kerajaan Israel merupakan kerajaan yang rawan di mana penguasanya rata-rata hanya mampu bertahan selama 11 tahun. Semuanya, ada 9 dinasti, jatuh-bangun sepanjang 212 tahun periode monarki. Dan bahkan ada satu dinasti saja yang mampu bertahan hanya dalam waktu 7 hari. Hanya sedikit dari kesembilan raja yang menempati tahta wafat karena sebab-sebab alamiah, sakit atau tua.

Sejarah kerajaan Judah tak kalah riuhnya. 20 raja memegang kekuasaan rata-rata bertahan selama 17 tahun; akan tetapi semuanya dari dinasti yang sama.

Dengan pecahnya kerajaan Palestina ini, maka musuh-musuh Bani Israel di masa Nabi Sulaiman bersiap-siap untuk menaklukkan mereka. Dalam diri Bani Israel sendiri mulailah pula kerusakan secara sosial dan religius terjadi. Mereka mulai melupakan ajaran-ajaran dari Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa serta beberapa petunjuk dari Nabi Daud dan Nabi Sulaiaman.

Bahkan ada sekelompok Bani Israel yang masih percaya kepada ilmu sihir Mesir kuno mulai berani tampil. Dan mereka mengklaim bahwa ilmu sihir ini legal secara hukum Taurat karena Nabi Sulaiman memiliki tentara dari bangsa Jin yang menurut mereka adalah tidak mungkin seorang manusia dapat memerintah bangsa Jin jika tidak memiliki ilmu sihir. Inilah yang disinggung oleh Allah dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 102. Dan mereka ini yang mempelajari ilmu sihir ini menyampaikannya secara lisan dan sembunyi-sembunyi karena setelah kejadian yang menimpa Samiri dengan patung anak sapi emasnya ilmu sihir ini harus disampaikan secara rahasia.

Kepercayaan ilmu sihir dengan penyampaian secara lisan inilah kemudian disebut dengan Kabbalah. Kabbalah sendiri berarti "secara lisan". Dan ilmu sihir ini terus diwarisikan secara rapi dan rahasia hingga wafatnya Nabi Sulaiman mereka mulai berani tampil secara terang-terangan (nanti pada artikel-artikel selanjutnya penulis akan mengungkap the unveiled kabbalah, sebuah buku yang membahas tentang kabbalah dan isinya)


Simbol kabbalah yang dinisbatkan pada kejayaan negara Israel

Tidak hanya penggunaan ilmu sihir saja, tetapi the ten commandement pun mulai mereka tidak jalani. Akibatnya, mereka mulai pecah secara religius dan sosial hingga dua kerajaan kecil berdiri di tengah-tengah musuh yang siap menyerang mereka.

Pada 721 sM, bangsa Assyria menaklukkan kerajaan Israel. Tinggalah kerajaan Judah bertahan hingga pada 586 sM bangsa Babilonia menyerang dan menghancurkan kerajaan Judah beserta masjid yang dibangun oleh Nabi Sulaiman.

Kerajaan Israel yang jatuh ke tangan Assyria ini membuat gatal bagi kerajaan Mesir hanya sebagai penonton saja. Padahal mereka tahu kalau tanah Palestina adalah daerah yang strategis. Maka pada 608 datanglah Fir'aun dari Mesir untuk menyerang kerajaan Judah dan selanjutnya menyerang ke wilayah Utara bekas kerajaan Israel yang telah dicaplok lebih dahulu oleh Assyria.

Perang hebat terjadi antara Mesir dan Assyria sedangkan Bani Israel hanya sebagai tumbal besarnya. Ibarat dua gajah besar yang bertarung maka sang pelanduk yang menerima akibatnya.

Melihat Mesir menyerang Assyria, Raja Nebukhanedzar dari kerajaan Babilonia tidak bisa berpangku tangan mengingat kerajaannya telah memiliki hubungan baik dengan kerajaan Assyria. Maka perang besar pun tidak terelakkan.

Bani Israel yang telah dicaplok oleh Assyria kemudian diserang lagi oleh bangsa Mesir kemudian bangsa Babilonia merasa bahwa semuanya tidak ada yang baik bagi mereka. Sekali dijajah tetaplah mereka bukan tuan rumah bagi tanah mereka sendiri.

Dapat Anda bayangkan bagaimana mereka dijajah secara beruntun oleh tiga bangsa besar di zamannya tersebut : Assyria, Mesir dan Babilonia. Tetapi inilah janji Allah. Ingat bacalah kembali artikel sebelumnya. Bani Israel akan terhina jika mereka tidak melaksanakan janji Allah dalam Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa as.

Pada penjajahan bangsa Babilonia inilah mereka mulai mengenal apa yang dinamakan diaspora. Diaspora adalah istilah di mana Bnai Israel mulai berpencar di mana-mana tanpa memiliki tanah sendiri. Mereka hanya dianggap sebagai pendatang saja. Inilah janji Allah seperti yang disebutkan dalam Taurat dan Al Qur'an.

Nebukhanedzar lalu membunuh raja terakhir dari kerajaan Judah Shidqiya bin Yawaqem, meruntuhkan masjid, menawan para penduduknya dan membawanya ke Babilonia.


patung raja Nebukhanedzar

Babilonia adalah sebuah kerajaan dengan agama pagan sebagai agama utama. Di negeri baru ini Bani Israel pun mulai tercemar dengan ide-ide baru dari kebudayaan Babbilonia ini. Kehancuran Palestina dengan segala kepercayaan mereka, masjid dan hilangnya tabut, tempat menyimpan Taurat Nabi Musa, membuat mereka mulai mencari jati diri baru agar nilai-nilai Taurat tidak hilang di negeri orang. Mulailah mereka menyusun Taurat yang telah hilang dicabik-cabik semenjak diserang Assyria.

Pada tahun 538 sM, bangsa Persia tampil di muka bumi ini dengah gagahnya menaklukkan kerajaan Babilonia. Dengan sang raja Cyrus, bangsa Persia dari ras Arya ini membawa nasib baru bagi Bani Israel.


ilustrasi Cyrus The Great

Tidak ada bendanya dengan bangsa Babilonia, kerajaan Persia pun beragama pagan. Sebuah kepercayaan sangat bertentangan dengan keyakinan yang dibawa oleh Nabi Musa.

Karena Bani Israel memiliki kepercayaan yang berbeda dan mereka ada yang tetap bertahan pada keyakinannya ini maka bangsa Persia menyebut mereka sebagai bangsa Yahudi, sebuah nama yang dinisbatkan dari Yahuda. Sejak saat itu bergantilah penyebutan mereka dari Bani Israel menjadi Yahudi, sebuah nama untuk ras dan sekaligus agama (keyakinan).

Dan nama Yahudi ini khas bagi mereka di zaman tersebut karena mengingat pada masa tersebut pada umumnya bagsa-bangsa lain memiliki keyakinan pagan (percaya pada dewa-dewa) sementara Bani Israel hanya percaya pada satu Tuhan (monoteis).

Nama Yahudi adalah sebuah nama untuk ras sekaligus agama. Dan ini satu-satunya yang ada di dunia. Sebagaimana kita ketahui agama Islam diamanatkan kepada Nabi Muhammad dari bangsa Arab, tetapi nama Arab hanya untuk penyebutan bangsa dan tidak ada agama Arab. Demikian halnya dengan agama Nasrani, Hindu dan Budhha. Tetapi Yahudi adalah unik. Ras sekaligus agama dari satu nama.

Bagaimana nasib bangsa Yahudi ini selanjutnya? Ikuti terus artikel ini jangan sampai Anda lewatkan

penulis mohon maaf bila artikel ini terbitnya sedikit lebih lama dari biasanya. Hal ini dikarenakan penulis sibuk pada kegiatan di kantor. Sekali lagi mohon maaf untuk semua pengunjung setia blog ini. Thanks for your visiting

Sabtu, 19 April 2008

Aha Eureka! Yahudi: Berawal di Mesir Berakhir di Palestina (4)

Bab V: Zaman Setelah Nabi Musa

Nabi Musa wafat sebelum beliau menginjakkan kakinya di tanah Kana'an. Adapaun nasib Bani Israel sendiri dipimpim oleh Yusya' bin Nuh atau dalam Bible beliau disebut Joshua. Menurut para ahli tafsir, beliaulah yang menemani Nabi Musa dalam surat al Kahfi ayat ke-60 dan 62.

Di bawah kepemimpinna Yusya' bin Nuh ini, Bani Israel mulai menyusun serangan dalam satu pasukan generasi baru setelah empat puluh tahun lamanya mereka terlunta-lunta di padang pasir.

Pada tahun 1190 sebelum Masehi, beliau berhasil menaklukkan mush dan menduduki kota Jericho. Kemudian mereka menyerang kota Adi, sebelah Ramallah,dan berusaha menaklukan al Quds (yang ketika itu menjadi ibu kota bangsa Yabus). Namun, beliau gagal. Jumlah pasukan yang lebih kecil dari musuh membuat mereka terhalang untuk menguasai semua wilayah di Kana'an (Palestina).

Yusha bin Nuh adalah seorang pahlawan yang gagah berani dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad nama beliau disebut oleh Rasul sebagai berikut:
"Sesungguhnya matahari belum pernah ditahan bagi manusia kecuali untuk Yusya'di hari-hari pertempurannya merebut kota al Quds."


ilustrasi Yusya bin Nuh yang sedang berdo'a agar matahari tertahan

Sepeninggal Yusya', Yahudi dipimpin oleh sekelompok pemimpin yang dikenal dengan sebutan "Para Hakim", dan zaman mereka ini dikenal dengan nama "Zaman Para Hakim".

Kondisi masyrakat Bani Israel ketika di Palestina kembali mengalami penyelewengan moral serta agama. Dan hal ini lebih akut dan sulit untuk diperbaiki. Sepuluh perintah Allah dari Nabi Musa dalam Taurat banyak yang diselewengkan.

Memang mereka menguasai tanah Palestina, tetapi kesatuan dan kekuatan mereka lemah akibat dari perbuatan mereka sendiri yang lebih mementingkan nafsu diri sendiri. Di saat itulah banyak kabilah-kabilah badui yang menyerang mereka.

Dalam keadan terjepit, Allah melahirkan di tengah-tengah mereka Para Hakim. Dan kepemimpinan mereka ini tidka berdasarkan hak warisan keturunan. Mereka mendapatkan posisi ini setelah melewati serangkain ujian berat. Dengan adanya ujian ini, lahirlah para pahlawan Bani israel. Karena itu dalam satu waktu, bisa saja terdapat beberapa Hakim yang maju bersama-sama memerangi musuh-musuh mereka. Dan pemerintahan Para hakim ini berlangsung selama 150 tahun.

Dari sekian Para hakim, yang terkenal adalah:
1. Gideon.
Ia berusaha menyatukan Bani Israel di bawah kekuasaannya. Namun, watak keras kepala Bani Israel telah menenggelamkan rasa persatuan dan solodaritas mereka. Inilah faktor yang menghambat tujuan Gideon.


ilustrasi Gideon sedang menyerang


2. Samson.
Ia adalah seorang yang keras dan kuat. Banyak peran yang dilakukannya dalam memerangi bangsa Filistine. Dalam film Samson and Delillah beliau digambarkan tidak terhormat karena gara-gara wanita beliau terhina.

3. Samuel.
Ia adalah seorang pemimpin agama yang kemudian dijadikan Nabi. Beliaulah yang merupakan kisah di mana Thalut menjadi jenderal unutk berperang dengan Jalut di surat Al Baqarah ayat ke-246 hingga 251.
Pada masa beliau, Bani Israel dalam masa-masa sulit sebagai sebuah bangsa besar. Mereka ingin agar kejayaan sebagai sebuah bangsa besar dapat terwujud. Dan ini hanya diraih dengan berperang melawan mush-musuh mereka. Karena itulah, mereka meminta kepada Nabi Samuel untuk menentukan seorang raja bagi mereka yang dapat memimpin dan berperang melawan musuh-musuh mereka. Selanjutnya Anda dapat merujuk ke surat al Baqarah ayat ke-246 hingga 251.

4. Deborah.
Beliau adalah seorang wanita yang kuat dan nekatan. Ia mampu mengambil peran laki-laki dalam berbagai peperangan. Ia adalah seorang wanita keturunan Ephraem.

Masa Para Hakim ini berlangsung hingga berdirinya kerajaan Bani Israel. Jumlah mereka sampai lima belas hakim di anatara mereka yang telah disebutkan di atas adalah Tashnael, Ahor, Shamago, Yadan, Yefta dan lain-lain.

Para sejarawan mengatakan bahwa pada zaman Para Hakim, Bani Israel mirip dengan Amerika Serikat: setiap wilayah satu suku dipimpin oleh beberapa pembesar suku. Suku-suku ini semuanya saling berhubungan dan disatukan oleh satu ikatan.

Jika Anda membaca Kitab Para Hakim di Bible, Anda akan mendapatkan kesimpulan bahwa masa ini adalah masa terburuk Bani Israel. Kejahatan dan kemungkaran tersebar, patung-patung disembah, orang-orang saleh dibunuh dan perzinaan semarak. Akibat dari penyimpangan akidah dan moral, Bani Israel tertimpa banyak cobaan dan serangan musuh.

Puncak dari keputus-asaan mereka ini disampaikan melalui dialog di surat al Baqarah tadi. Maka Allah memilih Thalut atau Saul sebagai pemimpin perang.


ilustrasi Thalut diresmikan menjadi pemimpin perang oleh Nabi Samuel

Dan jadilah beliau pemimpin Bani Israel untuk berperang. Dan ini terjadi pada 1025 sebelum Masehi.

Thalut ataus Saul adalah raja pertama Bani Israel. Namun, beliau tidak pernah berada di ibu kota. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di tenda militer dan medan pertempuran. Musuh-musuhnya tidak pernah memberi kesempatan untuk membentuk entitas sebuah kerajaan.

Peperangan beliau yang termashur adalah ketika berhadapan dengan Jalut atau Goliath. Tidak hanya karena pasukan yang dibawanya yang sedikit melawan pasukan berjumlah besar, tetapi juga tampilnya seorang anak muda yang berhasil membunuh Jaluth atau Goliath, Daud yang kemudian juga menjadi raja sekaligus nabi.



Nabi Daud atau David lahir di kota Betlehem. Beliau adalah Daud bin Yussa. Di masa remajanya belaiu adalah penggembala kambing, sebuah profesi para nabi dan rasul sebelum di angkat menjadi nabi atau rasul.

Nabi Daud menjadi raja setelah Thalut wafat. Beliau menjadi raja pada tahun 1044 sebelum Masehi hingga 963 sM. Kira-kira 40 tahun masa pemerintahan beliau. Pada tujuh tahun pertama pemerintahannya, el Khalil (Hebron) adalah ibu kota kerajaan. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Yerusalem.

Pada masa pemerintahannya, beliau berhasil menaklukkan dan mengusir bangsa Yabus dari kota al Quds pada tahun 995 sM. Beliau adalah pendiri kerajaan Islam untuk Bani Israel di Palestina yang sesungguhnya.

Kerajaan Islam? Mungkin Anda bertanya demikian. Mengapa disebut kerajaan Islam?

Pembaca yang budiman, semua Nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad membawa satu misi tunggal yang sama: Tiada Tuhan selain Allah. Dan ini adalah tauhid. Dan inti dari Islam. Yang membedakan hanyalah syariat. Syariat Nabi Musa dan Nabi Muhammad berbeda, karena kondisi waktu dan tempat serta memang itu adalah ketetapan Allah.

Maka kita pun harus bangga bahwa pendiri kerajaan dan kejayaan Islam pertama di bumi Palestina adalah Nabi Daud. Ini penting untuk disampaikan di sini. Karena bumi Allah ini hanya untuk orang muslim untuk diolah sesuai titah pertama: khalifatullah fil ardh.

Maka gaungkan bahwa Nabi Daud dan Nabi Sulaiaman adalah pendiri kejayaan umat Islam Bani Israel di Palestina. Nantinya, apabila ada selain umat Islam yang ingin menginjakkan kakinya di tanah suci Palestina ia harus bertauhid. Jika tidak, maka bangsa manapun tidak pantas berada di Palestina sebagai penguasa. Inilah apa yang disampaikan oleh Nabi Musa pertama kali kepada Bani Israel untuk mengusir bangsa Filistine dari Palestina. Karena misi sentral Nabi Musa adalah tauhid dan bangsa Filistine saat itu adalah bangsa berideologi pagan. Dan ini akan berlanjut di masa mendatang ketika semua umat Islam harus berhadapan dengan bangsa non Muslim di Palestina untuk pengusiran besar-besaran demi kesucian tanah Palestina dan demi tauhid Islam yang dibawa oleh Nabi Musa hingga Nabi Muhammad.

Ini juga penting disampaikan di sini bahwa nabi Daud adalah beragama islam. Maka jika Geert wilders dalam wawancaranya mengatakan I don't hate moslem but I hate Islam, maka ia telah membenci apa yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Daud. Dan kalimat Geert Wilders tersebut pun dalam konteks agar umat Islam mengganti agamanya. Karena yang ia "bakar" adalah lumbung yang bernama Islam sementara isinya tidak dibakar. Padahal bila seseorang tidak ingin terbakar olehnya ia harus keluar dari lumbung tersebut. Ini artinya ia harus keluar dari agama Islam. Sebuah kalimat bersayap agar umat Islam berganti agama atau paling tidak tidak beragama Islam!

Setelah Nabi Daud wafat, maka sebagai penggatinya adalah Nabi Sulaiman. Zaman beliau ini secara umum adalah zaman tenang baik secara politik, sosial dan ekonomi. Hal tersebut dikarenakan Nabi Daud telah menghilangkan segala rintangan dan menaklukkan seluruh kekuatan politik. Dengan demikian, Nabi Sulaiman dapat berkonsentrasi pada pembangunan dan perluasan kerajaan Beliau menjadi raja pada tahun 963 hingga wafat pada tahun 923 sM.

Kejayaan kerajaan Islam zaman Nabi Sulaiman ini merupakan hal yang wajar. Di satu sisi karena masa tenang secara politik juga karena Nabi Sulaiman memohon agar beliau diberi sebuah masa kerajaan yang hebat hingga tidak ada lagi Nabi sesudahnya yang diberi anugerah seperti beliau. Artinya, semasa hidup Nabi sesudah Nabi Sulaiman tidak memiliki apa yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman. Permintaan beliau terbatas pada nabi bukan umat. Sebab kejayaan umat Islam zaman sesudah Nabi Muhammad lebih besar dan hebat dari kerajaan Islam zaman Nabi Sulaiman.

Dan pada masa ini beliau membangun sebuah masjid yang diklaim oleh Yahudi sebagai kuil. Istilah kuil lebih dekat kepada agama pagan, sementara masjid lebih dekat istilahnya kepada Islam.


Maket ilusi Yahudi-zionis akan kuil(?) Nabi Sulaiman. Perhatikan bagaimana kuil tersebut menyimbolkan agama pagan dari pada agama Islam (tauhid).

Jika memang Nabi Sulaiman membangun sebuah masjid tentu masjid tersebut bukanlah tempat menyimpan harta yang banyak. Sebab di zaman sekarang banyak Yahudi yang menduga di bawah reruntuhan kuil itu terdapat harta Nabi Sulaiman yang kini di atasnya berdiri masjid al Aqsa. Sebagai seorang muslim dan Nabi, raja Sulaiman tidaklah mungkin menyimpan harta kekayaannya di kuilnya.

Menurut Sayid Quthub dalam tafsirnya, beliau mengatakan:
"Tidak semua penduduk bumi menjadi tentara Nabi Sulaiman, karena kerajaannya tidak lebih dari apa yang ada sekarang dikenal dengan Palestina (ini benar menurut penulis, karena ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Sulaiman hanya untuk Bani Israel dan tanag Palestina sebagai misi warisan dari Nabi Musa dan bukan untuk menguasai seluruh jazirah timur tengah. Karena itu tadi, dakwah Islam Nabi Sulaiman terbatas pada bangsa Israel, demikian pendapat penulis yang setuju dengan pendapat Sayid Quthub). Juga tidak semua jin dan burung ditundukkan bagi Nabi Sulaiman, hanya beberapa kelompok dari mereka."

Demikian pendapat Sayid Quthub.

Sebagai kata penutup untuk bab ini, Nabi Sulaiman inilah yang menjadi sasaran fitnah Yahudi zionis di masa mendatang sebagai penguasa ilmu sihir dan pelindung setan. Fitnah terus berlangung dengan ilusi tentang kuil yang sejatinya hanyalah sebuah masjid untuk beribadat. Tetapi oleh Yahudi-zionis dijadikan alasan untuk meruntuhkan masjid al Aqsa dan mendirikan kerajaan setan berlandaskan ilmu sihir kabbalah.


Gambar ilusi kuil Nabi Sulaiman

Hal ini disampaikan oleh Allah dalam surat al Baqarah ayat ke-102 tentang fitnah atas Nabi Sulaiman yang penyembah Iblis dan pelindung setan serta memiliki ilmu sihir penerus ilmu sihir kabbalah. Dan ini akan dibahas lebih jauh dan dalam pada bab-bab berikutnya.

Bagaiman nasib Bani Israel setelah wafatnya Nabi Sulaiman? Ikuti terus artikel ini pada seri berikutnya.

Islam, Kartun dan Teletubbies

Anda pasti pernah mendengar kalimat populer berikut ini:"Berpelukkan . . .". Ya, kalimat tersebut terlontar dari boneka-boneka lucu dalam film anak-anak Teletubbies. Tapi tahukah Anda bahwa dalam film ini tersimpan ideologi pagan atau ideologi anti-tauhid yang dikemas secara halus dan sempurna?

Pembaca yang budiman, jika Anda perhatikan secara jeli dan kemudian berpikir secara jernih dan dalam maka akan Anda dapatkan jika film ini secara halus menyajikan ideologi tentang kesucian matahari, bintang di tata surya kita yang dianggap suci bagi suku Indian dan di beberapa tempat di dunia ini.

Sudah bukan rahasia lagi jika matahari menjadi sebuah dewa suci, baik itu dalam agama Hindu, Sinto, Mesir kuno dengan nama Ra, dan lain sebagainya.

Lalu di mana letak ideologi dewa matahari ini.

Sebelum penulis membahasnya, perhatikan gambar di bawah berikut ini.



Nah, di gambar yang diambil dari film Teletubbies tersebut terlihat dengan jelas bagaimana matahari diberi rupa dengan wajah bayi yang lucu dan innocent. Lalu di mana letak simbol dewa mataharinya?

Dalam film tersebut, matahari diberi rupa wajah bayi. Seperti kita ketahui bersama, bayi menandakan kesucian, yang artinya ia lahir di dunia ini tanpa dosa sama sekali dan setiap orang yang melihat anak bayi pasti secara naluri akan tersetuh dengan rasa sayang dan kelucuan dari wajahnya yang memang tanpa dosa.

Nah, di sinilah secara halus film ini dibuat untuk memberi simbol dewa matahari secara halus dengan menampilkan wajah bayi dengan maksud mudah diterima oleh anak-anak tapi sejatinya bermakna penghormatan terhadap dewa matahari.

Film yang dibuat di Inggris oleh Ragdoll Production pada tahun 1997 ini membuat kita teringat akan hari minggu dalam bahasa Inggis, Sunday, harinya matahari. Sebuah nama untuk sebuah hari untuk menyembah matahari.

Memang bila penulis memberi kometar demikian ada yang mengatakan, "Ah, film itukan untuk anak-anak, anak-anak mana tahu hal seperti itu. Dan juga analisa seperti itu terlalu jauh dari film yang disajikan".

Tetapi jika kita melihat secara utuh akidah Islam maka sudah seharusnya kita tetap mem-protect anak-anak kita meski hal tersebut sangat kecil dan halus secara ideologi.

KArtun atau film animasi lainnya tetaplah dibuat oleh manusia yang mana dalam otaknya tetap menyimpan sebuah konsep, entah itu konsep hdupnya maupun konsep secara umum akan pandangan hidupnya.

Sebagai bahan renungan dan sekaligus wacana adalah jika kita memprotes kartun Nabi Muhammad yang dibuat secara "kasar dan menghina" apakah kita juga memprotes jika Nabi Muhammad digambar dengan "baik dan terhormat?

Jika jawaban ini adlah ya, kita harus memprotes kartun yang meski baik dan sebuah penghormatan untuk Nabi, lalu bagaimana film kartun-kartun nabi-nabi yang lain? Bukankah kita memiliki pedoman dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat ke-285 yaitu:
"Rasul (Muhammad) telah beriman kepada Aap yang diturunkan kepadanya dari Tuhanya dan demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata)"Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya".

Jika kartun Nabi Muhammad tidak boleh dibuat maka seharusnya kita juga bertanya hal yang sama bagaimana nasib kartun-kartun Nabi/Rasul yang lain seperti Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi Isa as.

Bila kita melihat kartun Nabi Nuh, Ibrahim, Musa yang dibuat di Barat maka kita mendapatkan begitu mudahnya mereka mereka-reka wajah dan gaya para Nabi tersebut. Jelas, kartun yang dibuat oleh mereka ini berdasarkan kisah-kisah yang ada di Bible.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap kartun para nabi ini? Samakah marah kita seperti marah kita terhadap kartun Nabi Muhammad yang seandainya dibuat berdasarkan kisah dalam Al Qur'an?

Jika tidak sama? Lalu bagaimana dengan ayat ke-285 dari surat Al Baqarah tersebut? Bukankah kehormatan semua Nabi dan rasul harus sama di mata kita sebagai orang beriman?

Biarlahlah pertanyaan ini menjadi renungan dan wacana bagi kita semua.

Bagaimana pendapat Anda?