Senin, 31 Maret 2008

Aha Eureka! Yahudi: Berawal di Mesir Berakhir di Palestina (1)


Bab I: Flash Back

Artikel ini dimulai dari sebuah kisah Nabi yang menjadi pengikat tiga agama besar di dunia saat ini: Nabi Ibrahim.

Membicarakan Yahudi adalah terasa kurang bila tidak membicarakan terlebih dahulu Nabi mulia ini.

Sejarawan banyak yang sepakat bahwa Nabi Ibrahim lahir di tanah yang kini penuh dengan kekakacauan, Irak tepatnya di kota Ur, Kaldan di bagian selatan Irak. Ur terletak di pinggiran sungai Eufrat yang terkenal itu.

Ada sebagian lagi mengatakan beliau lahir di kota Kutsa, selatan Irak. Sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim, kota ini juga masih menyimpan puing-puing reruntuhan akan pengorbanan Nabi Ibrahim ke dewa-dewa atas perbuatan beliau yang menghancurkan patung. Puing-puing reruntuhan ini masih tersisa hingga sekarang dan diberi nama Tel Ibrahim.

Saat Nabi Ibrahim hidup, yang memegang kekuasaan adalah raja Namrud bin Kana’an bin Kusyi.

Singkat kata, setelah beliau selamat dari kobaran api besar yang dijadikan sebagai “penebusan dosa” untuk para dewa, Nabi Ibrahim pun hijrah. Hal ini disebabkan selama ini kaumnya tidak pernah menghiraukan dakwah beliau.

Beliau hijrah merupakan sebuah keniscayaan dari sejarah para nabi. Pada masa selanjutnya, Nabi Yakub, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad semuanya pernah berhijrah.
Nabi Ibrahim hijrah ke tanah Syam (Suriah sekarang) dan tinggal di Haran, sebelah utara Syam. Tetapi di sini para penduduknya juga tidak menghiraukan dakwah beliau. Beliau pun berhijrah ke tanah Kana’an (Palestina). Di tanah Kan’aan ini beliau mendakwakan tauhid bahwa hanya Allah semata yang patut disembah.

Suatu saat tanah Kana’an mengalami masa kekeringan dan paceklik. Nabi Ibrahim pun bersama istrinya, Sarah pergi menuju Mesir. Pada saat itu Mesir sudah maju dan makmur di bawah kekuasaan raja (Fir’aun) Sanusart II dan Sanusart III. Wilayah kekuasaan Fir’aun pada saat itu membentang hingga Syam (suriah).


peta Mesir kuno

Selama di Mesir inilah Nabi Ibrahim mendapatkan istri keduanya yang bernama Hajar, yang menurut beberapa riwayat adalah seorang budak dari Fir’aun tetapi ada juga yang mengatakan Hajar adalah anak kandung Fir’aun dari rahim selirnya. Mana yang benar antara kedua riwayat ini bukan itu yang menjadi perdebatan. Inti sejarahnya adalah dari kedua rahim istri nabi Ibrahim inilah dunia saat ini menjadi sebuah wacana pertempuran tiga ideology besar, Yahudi Nasrani dan Islam.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim kembali lagi ke Kan’an (Palestina) dan singgah di Hebron. Di tanah Kana’an ini beliau sempat mengunjungi bebarapa tempat seperti Beersheba, AL Quds, el Khali dan tempat lainnya.

Dari istri kedua beliau, Hajar, Nabi Ibrahim mendapatkan keturunan Ismail dan dari istri pertama, Sarah, beliau mendapatkan keturunan Ishak, yang kedua-duanya kelak menjadi seorang nabi pula. Kemudian Nabi Ishak mendapatkan putra bernama Yakub yang mempunyai nama julukan Israel.

Untuk nama Israel ini, di dalam Al Qur’an hanya disebutkan sekali saja untuk merujuk ke Nabi Yakub yaitu di surat 3 ayat 93. Silakan Anda mengecek ayat tersebut.

Nabi Yakub dilahirkan di Palestina pada abad kedelapan sebelum Masehi, atau kira-kira pada tahun 1750 sebelum Masehi. Menurut riwayat beliau hijrah ke tanah Haran. Di tanah baru ini beliau menikah dan dikarunia dua belas putra: Simeon (Samson), Reuben, Levy, Judah, Issachar, Zebulun, Dan, Naphtali, Gad dan Asher. Sedangkan putra terakhir beliau Benyamin, dilahirkan di tanah Kana’an (Palestina), setelah Nabi Yakub kembali bersama anak-anaknya ke Sa’ir, dekat el Khalil (Hebron).

Yakub dan keluarganya selanjutnya hijrah ke Mesir seperti kejadian yang dialami oleh Nabi Ibrahim, masa paceklik. Selanjutnya di Mesir inilah Al Qur’an mengisahkan bagaimana kehidupan Nabi Yusuf dalam surat Yusuf.

Dan atas kebaikan Nabi Yusuf inilah anak-anak nabi Yakub dan semua keturunannya hidup dengan tenang. Dan inilah babak awal dari masa Bani Israel. Hal ini dikatakan demikian karena semua keturunan Nabi Yakub disebut Bani Israel.
Sejarah Bani Israel pun dimulai dari Mesir. Dan Sejarah besar pun mulai terukir di tanah ini hingga nanti ke Palestina.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Mesir-Palestina merupakan dua tanah sejarah semenjak Nabi Ibrahim hingga sekarang.

Dan judul artikel ini adalah tepat karena dari Mesirlah awal sejarah besar terukir dan di Palestinalah akhir sejarah akan diukir.

Sysru pernah berkata tentang Athena, “ketika kita menjejakkan kaki kita di sini, maka kita tengah berjalan di atas sejarah.”

Kalimat Sysru di atas tepat juga untuk dilabelkan ke artikel ini: tanah Mesir-Palestina, adalah dua tanah yang akan menjadi sejarah akan berawal sejarah Bani Israel dan berakhirnya Yahudi.

Bab II : Bani Israel di Mesir

Para sejarawan berpendapat ketika nabi Yakub dan semua keluarganya hijrah ke Mesir, Mesir saat itu di bawah pemerintahan dinasti Hyksos pada abad kesembilan belas sebelum Masehi (1878-1580).

Hyksos adalah bangsa penggembala asal Asia yang hijrah ke Mesir. Kisah klasik suatu bangsa pindah adalah masa paceklik. Bangsa ini berhasil memanfaatkan kelemahan penguasa Mesir pada saat itu dan membentuk empat dinasti penguasa Mesir selanjutnya.

Selama masa dinasti Hyksos, Bani Israel hidup dalam keadaan aman dan makmur. Singkat kata, Ahmes berhasil mengalahkan dinasti Hyksos pada abad keenam belas dan mengusir mereka. Maka Mesir kembali di bawah pemerintahan bangsa asli Mesir dan membentuk dinasti XVIII.

Dinasti penguasa Mesir baru ini melihat bahwa Bani Israel lebih berpihak ke Hyksos dari pada ke mereka, maka dinasti ini pun mulai merasa resah akan keberadaan Bani Israel di Mesir.

Sebagai bahan tambahan saling berganti masa penguasa tanah Mesir berikut penulis sajikan kepada Anda silsilah masa kekuasaan Mesir.




Periode sebelum masa dinasti 3500-3100 sebelum Masehi

Periode dinasti awal 3100-2686 sebelum Masehi

'Scorpion'

Dinasti pertama c.3100-2890 sebelum Masehi

Narmer
Menes (Hor-Aha)
Djer
Wadj (Djet)
Den
Anendjib
Semerkhet
Qa'a

Dinasti kedua c.2890-2686 Sebelum Masehi
Hotepsekhemwy
Raneb
Nynetjer
Seth-Peribsen
Khasekhemwy


Kerajaan Tua c.2686-2181 Sebelum Masehi
Dinasti ketiga c.2686-2613 sebelum Masehi
Sanakhte (Nebka) (c.2688-2668)
Djoser (c.2668-2649)
Sekhemkhet (Djoser Teti) (c.2649-2641)
Khaba (c.2641-2637)
Huni (c.2637-2613)

Dinasti keempat c.2613-2494 sebelum Masehi
Snofru (c.2613-2589)
Khufu (Cheops) (c.2585-2566)
Djedefre (c.2566-2558)
Khafre (Rekhaf) (c.2558-2532)
Menkaure (Mykerinos) (c.2532-2514)
Shepseskaf (c.2514-2494)

Dinasti V c.2494-2345 sebelum Masehi
Userkaf (c.2494-2487)
Sahure (c.2487-2475)
Neferirkare Userkhau (c.2475-2455)
Shepseskare (c.2455-2448)
Raneferef (c.2448-2445)
Niuserre (c.2445-2421)
Menkauhor (c.2421-2413)
Djedkare (c.2413-2381)
Unas (Wenis) (c.2381-2345)

Dinasti VI c.2345-2181 sebelum Masehi
Teti (c.2345-2313)
Pepi I Meryre (c.2313-2279)
Merenre (c.2279-2270)
Pepi II Neferkare (c.2279-2181)

Periode pertengahan awal c.2181-2040 sebelum Masehi


Dinasti VII / VIII c.2181-2173 sebelum Masehi
Wadjkare Qakare Iby


Dinasti IX /X c.2160-2040 sebelum Masehi
Meryibre Kheti (Akhtoy) I
Merykare
Kanrferre
Nebkaure Kheti (Akhtoy) II
Wahkare Kheti (Akhtoy) III
Merikare 11th Dynasty c.2133-1991 sebelum Masehi
Intef I (Inyotef I) Sehertawy (c.2133-2123)
Intef II (Inyotef II) Wahankh (c.2123-2074)
Intef III (Inyotef III) Nakhtnebtepnefer (c.2074-2066)
Mentuhotep I ? (c.2066-2040)


Kerajaan masa pertengahan c.2040-1786 sebelum Masehi

Dinasti XI
Mentuhotep II Nebhepetre (c.2040-2010)
Mentuhotep III Sankhkare (c.2010-1998)
Mentuhotep IV Nebtawyre (c.1998-1991)

Dinasti XII c.1991-1786 sebelum Masehi
Amenemhet I Sehetepibre (c.1991-1962)
Senusret I Kheperkare(c.1962-1917)
Amenemhet II Nubkaure (c.1917-1882)
Senusret II Khakhperre (c.1882-1878)
Senusret III Khakaure (c.1878-1841)
Amenemhet III Nimaatre (c.1841-1796)
Amenemhet IV Maakherure (c.1796-1790)
Queen Sobeknerfu Neferusobek (c.1790-1786)


Periode pertengahan kedua c.1786-1567 sebelum Masehi
Dinasti XII (kira-kira ada 70 raja) c.1786-1633 sebelum Masehi

Wegaf Khawitawire (c.1783 - 1779)
Amenemhet V Sekhemkare
Harnedjheriotef Hetepibre
Sobekhotep I Khaankhre (ca.1750)
Hor
Amenemhet VII Sedjefakare
Sobekhotep II Sekhemre-Khutawy (ca.1745)
Khendjer
Sobekhotep III
Neferhotep I Khasekhemre (c.1723-1713)
Sobekhotep IV Merihotepre Khaneferre (c.1713)
Iaib (c.1713-1703)
Ay Merneferre (c.1703-1680)
Neferhotep II
dan lebih dari delapan raja pada dinasti XIV c.1786-1603 sebelum Masehi

Nehesy dinasti XV c.1674-1567 sebelum Masehi

Hyksos kings
Sheshi (Salitis?)
Yakubber (Bnon?)
Khyan (Apachnan)
Apepi I (Apophis)
Apepi II (Khamudi?) (c.1542-1532)

Dinasti XVI c.1684-1567 sebelum Masehi Raja-raja Hyksos

Anather
Yakobaam ?
Dinasti XVII c.1650-1567 sebelum Masehi
Sobekemsaf I
Sekhemre Wadjkhau
Sobekemsaf II
Intef VII
Tao I Seakhtenre
Tao II Sekenenre
Kamose Wadjkheperre


patung raja-raja (Firaun) Mesir

Kerajaan Baru c.1570-1070 sebelum Masehi


Dinasti XVIII c.1570-1293 sebelum Masehi

Ahmose I Nebpehtyre (c.1570-1546)
Amenhotep I Djeserkare (c.1546-1527)
Thutmose I Akheperkare (c.1527-1515)
Thutmose II Akheperenre (c.1515-1498)
Queen Hatshepsut Maatkare (c.1498-1483)
Thutmose III Menkhepere (c.1504-1450)
Amenhotep II Akheperure (c.1450-1412)
Thutmose IV Men-khepru-Re (1412-1402)
Amenhotep III Nebmaatre (c.1402-1364)
Amenhotep IV/Akhenaten Neferkheperure (c.1350-1334)
Smenkhkare Ankhheperure (c.1334)
Tutankhamen Nebkheperoure (c.1334-1325)
Ay Kheperkheperure (c.1325-1321)
Horemheb Djeserkheperure (c.1321-1293)

Dinasti XIX c.1293-1185 sebelum Masehi

Ramses I Menpehtyre (c.1293-1291)
Seti I Merienptah Menmaatre (c.1291-1278)
Ramses II Meriamen Usermaatre Setepenre (c.1279-1212)
Merneptah Hetephermaat Baenre Meriamen (c.1212-1202)
Amenmes Heqawaset Menmire Setepenre (c.1202-1199)
Seti II Merenptah Userkheperure Setepenre (c.1199-1193)
Merneptah Siptah Sekhaenre/Akhenre (c.1193-1187)
Queen Twosret Setepenmut Sitre Meriamen (c.1187-1185)


Dinasti XX c.1185-1070 sebelum Masehi

Sethnakhte Userkhaure Setepenre (c.1185-1182)
Ramses III Usermaatre Meriamen (c.1182-1151)
Ramses IV Usermaatre/Heqamaatre-Setepenamen (c.1151-1145)
Ramses V Usermaatre Sekheperenre (c.1145-1141)
Ramses VI Nebmaatre Meriamen (c.1141-1133)
Ramses VII Usermaatre Setepenre Meriamen (c.1133-1128)
Ramses VIII Usermaatre Akhenamen (c.1128-1126)
Ramses IX Neferkare Setepenre (c.1126-1108)
Ramses X Khepermaatre Setepenptah (c.1108-1098)
Ramses XI Menmaatre Setepenptah (c.1098-1070)

Periode pertengahan ketiga c.1070-664 sebelum Masehi
High Priests (Thebes)
Dinasti XXI sementara ada di Tanis

Herihor Siamun Hemnetjertepyenamun (c.1080-1074)
Piankh (c.1074-1070)
Pinedjem I Meriamen Khakheperre Setepenamun (c.1070-1032)
Masaherta (c.1054-1046)
Djedkhonsefankh (c.1046-1045)
Menkheperre (c.1045-992)
Smendes II (c.992-990)
Pinedjem II (c.990-969)
Psusennes (c.969-959)

Dinasti XXI
Tanite c.1070-945 sebelum Masehi

Nesbanebded Hedjkheperre Setepenre (Smendes I) (c.1070-1043)
Nephercheres (Neferkare-hekawise Amenemnisu Meramun (c.1043-1039)
Psusennes I Akheperre Setepenamun (c.1039-1000)
Amenemope Usimare Setepenamun (c.1000-991)
Osorkon the elder (Osochor) (c.991-985)
Psinaches (c.985-976)
Psusennes II Titkheprure (c.976-962)
Siamun Nutekheperre Setepenamun Siamun Meramun (c.962-945)

Dinasti XXII
Bubastite c.945-730 sebelum Masehi
Sheshonq I Hedjkheperre Setepenre (c.945-924)
Osorkon I Sekhemkheperre Setepenre (c.924–889)
Sheshonq II Hekakheperre Setepenre (ca. 890)
Takelot I Usimare (c.889–874)
Osorkon II Usimare Setepenamun (c.874–850)
Harsiese (ca. 865)
Takelot II Hedjkheperre Setepenre (c.850–825)
Sheshonq III Usimare Setepenamun (c.825–773)
Pamai (c.773–767)
Sheshonq V Akheperre (c.767–730)
Osorkon IV (c.730–712)

Dinasti XXIII
Tanite c.817-730 sebelum Masehi

Pedibastet Meriamen Usermaatre Setepenre(c.818–793)
Iuput I (ca. 800)
Sheshonq IV Usermaatre Meriamen (c.793–787)
Osorkon III Usermaatre Setepenamen (c.787–759)
Takelot III Usermaatre (c.764–757)
Rudamon Usermaatre Setepenamen (c.757–754)
Iuput II Meriamen sibastet Usermaatre (c.754–712)
Nimlot (ca. 740)
Peftjauabastet Nefer-ka-re (c.740–725)
Thutemhat (ca. 720)
Pedinemti (ca. 700)
Dinasti XXIV c.720-714 sebelum Masehi

Shepsesre Tefnakht (c.724-717)
Wahkare Bakenrenef (c.717-712)

Dinasti XXV 747-656 sebelum Masehi

Piye Usimare Sneferre (Piankhi) (747-716)
Shabaka Neferkare Wahibre (716-702)
Shebitku Djedkaure Menkheperre (702-689)
Taharka Khunefertemr (689-663)
Tanutamun Bakare (663-656)


Periode dinasti terakhir 664-332 sebelum Masehi
Dinasti XXVI 664-525 sebelum Masehi


Necho I (664-656)
Psammetic I Wahemibre Psamtek (656-609)
Necho II Wahemibre Neko (609-594)
Psammetic II Neferibre Psamtek (594-587)
Wahibre (Haaibre) (Apries) (587-569)
Ahmose II Khnemibre (Amasis) (569-526)
Psammetic III Ankhkaenre (526)

Dinasti XXVII 525-404 sebelum Masehi
Cambyses II (525-522)
Darius I (521-486)
Xerxes (486-465)
Artaxerxes I (465-424)
Darius II (423-405)
Artaxerxes II (405-359)

Dinasti XXVIII 404-399 sebelum Masehi
Amenirdis (Amyrtaeus) (404-399)

Dinasti XXIX 399-380 sebelum Masehi
Nefaarud I (Nepherites I) (399-393)
Psammuthis Userre Setepenptah Pasherienmut (ca. 392)
Hakor Khnemmaere Setpenkhnum (Achoris) (392-380)
Nefaarud II (Nepherites II) (380)

Dinasti XXX 380-343 sebelum Masehi

Nakhtnebef Kheperkare (Nectanebo I) (380-362)
Djedhor (362-360)
Nekhtharehbe Snedjemibre Setpenanhur (Nectanebo II) (360-343)

Dinasti XXXI 343-332 sebelum Masehi
Artaxerxes III (343-338)
Arses (338-336)
Darius III (336-332)

Periode Romawi Kuno Raja-raja Masedonia

Alexander the Great (332-323)
Philip III Arrhidaeus (323-317)
Alexander IV Aegus (317-311)

Dinasti Ptolemaik 323-30 sebelum Masehi
Ptolemy I Soter (305-282)
Ptolemy II Philadelphus (284-246)
Arsinoe II (278-270)
Ptolemy III Euergetes I (246-222)
Bernice II (246-221)
Ptolemy IV Philopator (222-205)
Ptolemy V Epiphanes (205-180)
Harwennefer (205-199)
Ankhwennefer (199-186)
Cleopatra I (194-176)
Ptolemy VI Philometor (180-164)
Cleopatra II (175-115)
Ptolemy VII Neos Philopator (164-145)
Ptolemy VIII Euergetes II (145)
Cleopatra III (142-101)
Ptolemy IX Soter II (116-80)
Ptolemy X Alexander I (107-88)
Ptolemy XI Alexander II (80)
Ptolemy XII Neos Dionysos (80-51)
Queen Bernice IV (58-55)
Ptolemy XIII (51-47)
Queen Cleopatra VII (51-30)
Ptolemy XIV (47-44)
Ptolemy XV (44-30)


Kembali ke nasib Bani Israel, pada masa dinasti XIX berkuasa, tepatnya pada masa Ramses II, Bani Israel mengalami masa-masa yang paling sulit dalam kehidupan mereka.

Hal ini disebabkan pada masa sebelumnya, orang-orang Mesir mendapatkan perlakuan yang berbeda dalam masa dinasti Hyksos dan juga semakin banyaknya populasi mereka hingga menjadi begitu dominan dalam masyarakat.

Dan ketika Ramses II berkuasa, Bani Israel dijadikan budak yang hina dengan hak-hak kehidupan yang begitu jauh dari orang-orang Mesir pada umumnya. Di samping alasan di atas, Bani Israel dijadikan budak karena maneuver-manuver mereka yang mencoba untuk mengkudeta dinasti XIX tersebut.

ilustrasi perbudakan terhadap Bani Israel



ilustrasi Bani Israel menjadi budak dan mendapatkan hukuman

Dalam keadaan tertekan inilah, tampillah putra terbaik dari Bani Israel yang kemudian dijadikan oleh Allah menjadi nabi sekaligus pembebas Bani Israel dari kehinaan, Nabi Musa.



Bagaimana nasib Bani Israel selanjutnya? Pastikan Anda terus mengikuti artikel ini karena artikel ini baru permulaan dan nantinya akan membahas freemasonry hingga menyinggung ke Da Vinci Code dan juga konspirasi Amerika Serikat, Uni Eropa, Vatikan dan isu terkini yang berkaitan dengan Islam dan umatnya.

Jadi ikuti terus saja artikel ini! Jangan sampai Anda telat mendapatkan informasi penting tersebut!

Senin, 24 Maret 2008

Aha Eureka!: Dahsyatnya Pesona Nabi #3

Jika Anda seorang manager dan sedang membutuhkan karyawan, kriteria apa yang akan Anda gunakan untuk menerima seseorang untuk menjadi karyawan perusahaan Anda?

Jika Anda berpedoman pada nilai-nilai di ijazah, tentu ini adalah suatu kriteria yang dapat dipertanggung-jawabkan. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah: Cukupkah Anda berpedoman hanya pada sampai ijazah saja yang, boleh jadi,asli tapi palsu?

Apabila Anda merujuk ke Al Qur'an, ternyata pedoman yang disampaikan oleh Al Qur'an merupakan isu terkini. Seperti yang boleh jadi Anda telah ketahui, kualitas seorang karyawan tidak hanya pada nilai intelektual di ijazah (IQ), tetapi juga pada nilai-nilai emosional dan, ini yang terpenting, spiritual.

Pernakah Anda membaca cerita yang mengagumkan tentang singgasana Ratu Balqis yang 'dipinjam' oleh Nabi Sulaiman? Kisah dalam Al Qur'an ini ada satu plot: Bagaimana caranya agar singgasana Ratu Balqis itu dibawa ke istana Nabi Sulaiman dengan cepat dan tanpa diketahui oleh Ratu Balqis.

Seperti yang dikasahkan dalam surat An Naml:38-40, Nabi Sulaiman meminta saran dan sekaligus memberi satu kompetisi yang sehat kepada para "muspida"-nya yaitu siapa yang mampu membawa singgasana Ratu Balqis dengan cepat.

Dalam hal ini, Nabi Sulaiman mencontohkan sosok pemimpin yang bijak yaitu membiarkan anak-buahnya saling berkompetisi untuk mennujukkan kinerja mereka yang optimal. Sebuah contoh pemimpin yang baik dari diri seorang Nabi dan sekaligus seorang raja.

Kembali kepada soal singgasana ratu Balqis, ada yang menarik untuk kita bahas. Ketika kompetisi itu dibuka oleh Nabi Sulaiman, tamppillah ke depan salah satu dari bangsa jin, Ifrit. Dengan yakin dan mantap jin Ifrit berkata:
"Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum Engkau berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya." (QS 27:39)

Dari ayat di atas, penulis ingin menukil ayat tersebut yaitu: qawiyyun amiin, yang artinya aku kuat dan lagi dapat dipercaya.

Kata qawiyyun amiin inilah yang penulis maksud sebagai inti artikel ini. Dan yang menarik adalah kata tersebut juga menunjukkan sosok kualitas seseorang dalam melaksanakan tugas. Baiklah, kita lihat dalam ayat yang lain dengan cerita Nabi yang lain pula, Nabi Musa.

Kisah berawal ketika nabi Musa setelah membantu mengambil air dari sumur untuk anak permpuan Nai Syu'aib, beliau ditawar untuk menjadi menantu Nabi Syu'aib dengan mahar berupa menjadi penggembala kambing selama 8-10 tahun. Yang menarik adalah tawaran untuk menjadi menantu tersebut datang dari anak Nabi Syu'aib sendiri dengan kalimat terjemahannya sebagai berikut:
"Salah seorang dari kedua wanita tersebut berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang bapak ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (QS: 28;26)

Nah, yang menarik adalah ayat di atas dengan ayat ke-39 surat An Naml sama-sama menggunakan kata: Qawiyyun amiin.

Sampai di sini kita dapat menarik simpulan awal bahwa kriteria qawiyyun amiin merupakan kriteria yang telah disampaikan oleh Allah dalam dua kisah dari dua nabi yang berbeda ini merupakan dasar untuk kita untuk memilih orang yang dapat diandalkan.

Dari kedua ayat tadi ada kata amiin yang mana dalam bahasa Arab merupakan satu akar kata dengan kata iman dan amanah.

Kata amiin ini juga merupakan julukan Nabi Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi. Beliau diakui sebagai al amiin yang dapat dipercaya jauh sebelum menjadi Nabi.Dan ternyata kaat amiin menjadi isu utama dalam dunia bisnis modern saat ini.


masih ingatkah Anda pada isu utama di 1998 ketika era presiden Soeharto tumbang? Ketika isu kepercayaan atau amiin merupakan isu sentral di segala segi kehidupan bagsa kita, terutama politik dan ekonomi.

Dapat kita bayangkan bagaimana gentingnya keadaan pada saat itu ketika kepercayaan dunia luar terhadap ekonomi kita dalam titik terendah seiring ambruknya bank dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap tokoh politik Orde Baru.

Isu kepercayaan ini juga menjadi isu sentral terhadap kinerja seseorang dalam dunia kerja.

Baiklah penulis memberikan kepada Anda dua pilihan, yang manakah yang akan Anda pilih untuk menjadi karyawan Anda: Seorang yang memiliki segudang pengalaman dengan nilai dan gelar di ijazah yang begitu mengagumkan tetapi culas dan tidak jujur atau seseorang yang biasa-biasa saja tapi mau kerja keras dan jujur?

Tentu penulis sangat yakin yang akan Anda pilih adalah orang yang model kedua. Hal ini disebabkan kejujuran memberi Anda rasa aman atau ketenangan. Ingat juga kata aman adalah satu akar kata dengan kata amiin.

Iman, amiin, aamana, amaanah semua kata ini dalam bahasa Arab dalam satu akar kata. Apa maksud dari ini semua?

Orang beriman atau amana pastilah orang yang amiin jujur, karena ia memberikan rasa aaman ketenangan.

Dengan demikian bila ada orang yang mengaku beriman tapi tidak jujur atau tidak memberikan rasa ketrentaman/ketenangan maka keimanannya perlu ditinjau, sudahkak ia beriman secara baik atau belum.

Nah, pembaca budiman, jika Anda memiliki dua kriteria yang sama baiknya pada qawiyyun amiin dan Anda seorang manager personali maka orang yang manakah yang akan Anda pilih?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita ke ayat ke-40 surat An Naml yang terjemahannya sebagai berikut:
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala melihat singgasana itu, iapun berkata:"Ini termasuk kurni Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)> Dan barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS 27: 40)

Dari ayat di atas ternyata Allah memberi pelajaran pada kita bahwa sebagai sosok pemimpin yang bijak, Nabi Sulaiman memilih orang ini untuk membawa singgasana Ratu Baliqis karena ia memberi tawaran yang lebih 'menggiurkan' daripada jin Ifrit.

Kompetisi itupun dimenangkan oleh orang ini karena tanpa berkoar kalau ia qawiyyun amiin ia juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh jin Ifrit, Ilmu dari Al Kitab dan juga kinerja yang lebih baik, lebih cepat membawa singgasana. Cepat, tepat, berkualitas selain qawiyyun amiin dan jangan lupa ia ahli ibadah karena memiliki ilmu agama.

Maka jika Anda adalah seorang manager, maka kriteria-kriteria apa saja yang akan Anda pilih semua berpulang pada visi dan misi tempat usaha Anda. Tetapi jika Anda merujuk apa yang telah penulis sajikan kepada Anda maka kriteria qawiyyun amiin merupakan kriteria utama. qawiyyun berarti kualitas. Baik itu kualita pada kekuatan ilmu, skill, fisik (kesehatan) dan kualitas lainnya, dan amiin yang berarti jujur.

Intinya adalah kualiata (qawiyyun tidak hanya berbicara secara fisik tetapi juga ilmu secara duniawi dan ukhrawi. Dengan sendirinya kesetiaan dalam dunia kerja bukanlah hal utama. Kesetiaan atau loyalitas boleh jadi merupakan topeng sempurna untuk memnutupi kinerja seseorang dalam bekerja. Sebab kesetiaan yang berarti bertahun-tahun tetap bekerja pada satu perusahaan menjadi suatu yang tidak berguna apabila tidak diiringi dengan dua kriteria tadi: qawiyyun amiin, kualitas-jujur.

Kualitas-jujur adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi jika dari dua hal itu yang paling memberi Anda rasa aman terhadap perusahaan Anda tentu kriteria amiin yang Anda pilih.

Bagaimana pendapat Anda?

Sabtu, 22 Maret 2008

Aha Eureka: Simbol ini berarti . . .#2

Pernah melihat simbol ini atau simbol ini

Nah, manakah yang merupakan simbol Nazi dan manakah simbol agama Hindu?

Ya, simbol ini terkenal dengan nama swastika. Baik Nazi maupun agama Hindu menggunakan simbol yang sama.

Swastika dipercaya sebagai sebuah simbol yang sangat tua kira-kira 3000 tahun yang lalu. Swastika,menurut teori dari Goblet d'Alviella, ahli semiotika, merupakan simbol dari matahari. Swastika telah digunakan lama sebelum kelahiran Nabi Isa di Iran, Chima, India, Jepang dan Eropa bagian Selatan. Akan tetapi, bangsa Sumeria dipercaya menggunakan simbol ini terlebih dahulu.

Di Cina pada masa dahulu mereka telah memiliki simbol
dengan nama wan. Adapun di Jepang simbol swastika digunakan sebagai simbol angka 10.000 yaitu angka terbesar.

Sementara di India, kata swastika dari bahasa Sanskrit su = good, dan asti = menjadi , dengan mendapatkan akhiran ka. Dan arah tangan swastikanya mengikuti arah jarum jam.

Swastika ini ternyata memiliki nama lain di tempat yang berbeda. Nama Hakenkreuz di gunakan di Jerman untuk para pangeran, fylfot di Inggris, crux gammata di negeri Latin dan tetraskelion atau gammadion di Yunani.

Bagaimanapun demikian, nama swastika tetap satu memiliki arti sentral yaitu kekuatan, energi dan migrasi.

Oleh karenanya, tidaklah mengherankan bila Nazi menggunakan simbol ini. Hitler ingin mengatakan kepada dunia bahwa ia memiliki kekuatan yang hebat dengan disimbolkan melalui swastika ini.

Ada dua model swastika, pertama model
dan model . Untuk model terakhir ini dipercaya memiliki makna lebih positif.

Meski demikian kedua-duanya memiliki arti tersendiri bagi yang menggunakannya, seperti Hitler yang menggunakannya untuk ambisi pribadi yang jahat.