Bab XII: Sejaran Talmud dan Kaitannya Dengan Zionis (bag.3)
Selain Taurat dan Talmud ada juga kitab lain yang sama pentingnya bagi Yahudi yaitu Zohar. Menurut para rabi Yahudi, kitab ini merupakan Mishnah ketika Nabi Musa berada di gunung Sinai. Beliau tidak mendiktekannya kepada Joshua (Jusa’ bin Nuh) atau kepada tetua Bani Israel tetapi kepada Nabi Harun secara langsung. Lalu Nabi Harun mendiketekannya kepada Eliyazar sehingga ajaran-ajaran lisan ini dikitabkan dan dinamakan Zohar yang berarti Cahaya. Kitab in menjelaskan dan komentar terhadap Taurat.
Di samping itu ada lagi empat kecil lainnya yang sebelumnya tidak termuat dalam kitab Talmud, tapi para rabi era terakhir menggabungkannya ke dalam Talmud. Empat kitab tersebut adalah:
a. Masikhith Sufisrim, tentang para penulis.
b. Ibihil Rabiti, tentang hukum pandai besi.
c. KalAllah, tentang pesta (perayaan) dan hukum-hukumnya.
d. Masikhith Dirikh Iritis, yang artinya Petunjuk Hidup, dan kitab ini terbagi lagi menjadi:
1. Rabbah,bagian utama
2. Zuta, bagian tengah.
Seperti yang penulis sampaikan kepada Anda bahwa begitu banyak rabi yang mengarang kitab Talmud dan ini mengakibatkan begitu banyak kitab yang disebut sebagai Talmud dan masing-masing memiliki perang penting bagi Yahudi. Di antara kitab-kitab tersebuat adalah:
Biar, berisi tentang pemberitahuan, penjelasan, dan komentar di atas komentar.
Halakhoth, karya Hil Khoth yang berarti hukum-hukum dan usulan-usulan. Kitab ini ditulis oleh beberapa rabi yaitu: Musa ben Maimon (Maimonides), Beshai, Edels, Moses of Kotzen, Kimchi, dan lainnya. Pada sebagian besar masalah, kitab ini mengutip dari kitab Maimonides, Hilkoth Akum yaitu makalah berisi berbagai pendapat tentang bintang, palnet, dan derajat bangsa-bangsa. Dan ada juga risalah lainnya bernama Hilkhoth Maakhaloth Asavoroth, yaitu makalah tentang makanan haram
Iuchasin atau juga disebut Sepher Iu Chasin yaitu makalah tentang keturunan. Membahas tentang sejarah bangsa Yahudi yang suci sejak permulaan dunia sampai tahun 1500 M. Kitab ini diterbitkan di Karaku pada tahun 1580 M.
Jalkut sebuah komentar biasa dari berbagai kitab masa lalu disusun oleh Shimeon of Frankfurt. Kandungan kitab ini tidak ada yang bersifat leterlek tapi hanya bersifat kiasan
Ked Hakkemach, kitab ini mengandung tentang tempat-tempat dan kondisi alam lahut sesuai dengan susunan abjad. Penyusunnya adalah Rabi Bishai.
Maagen Abraham, penyusunnya adalah Barizula.
Mizbeach Hazzahabh yang berarti “Penyembelihan Emas”. Penyusunnya adalah Rabi Shilimon ben Rabi Mordecai. Kitab ini dicetak di Basel pada tahun 1602 M.
Machzor, tentang berbagai shalat pada hari hari perayaan besar.
Menorath Hammaor yang berarti tatakan cahaya lilin. Kitab yang ditulis berdasarkan Talmud ini memuat komentar-komentar majazi dan sejarah terhadap keseluruhan Talmud. Penyusunnya adalah Rabi Ishaq Ayuhab dan dicetak pada tahun 1544 M.
Maine Haieshuah yang berarti sumber-sumber mata air yang setia. Kitab yang disusun oleh Rabi Ishaq Abribanil dan dicetak pada tahun 1551 M. Kitab ini berisi komentar-komentar menarik tentang kitab Daniel, seorang Nabi bagi Bani Israel. Padanya juga terdapat perdebatan-perdebatan sengit melawan kaum Nashrani.
Mikra Gedolah yang berarti Pertemuan Besar. Sebuah kitab suci berbahasa Ibrani disertai dengan komentar-komentar Rabi Solomon Iarachi dan Rabi Ezra.
Maschima Iesshuah yang berarti kabar gembira untuk selamat dari dosa. Mengandung berbagai keterangan tentang semua nabi. Juga berisitentang masalah selamat dari dosa pada masa depan. Penyusunnya adalah Rabi Abarbaniel.
Nizzachoni yang berarti kemenangan. Kitab ini mendebat kaum Kristiani dan empat Injil pertama dari kitab Perjanjian Baru yang berbicara tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Isa Al Masih. Penyusunnya adalah Rabi Libman dan dicetak pada tahun 1559 M.
Sepher Ikkari, berisi berbagai akidah dasar atau tentang butir-butir iman. Kitab ini mengandung serangan fanatis sekali terhadap agama Kristen.
En Israel, sebuah kitab terkenal yang terdiri dari dua juz. Juz kedua bernama Beth Jacob (keluarga Ya’qub) dan berisi tentang sebagian besar kisah Talmud yang menyenangkan. Dicetak di Venesia pada tahun 1547 M.
Scaare Ohar yang berarti limpahan embun. Sebuah kitab terkenal yang dianggap sebagai kunci membuka kitab Zohar dan kitab-kitb serupa. Penyusunnya adalah Rabi Shiphitil Horoyits.
Toldoth Ieschu yang berarti keturunan Yesus. Kitab ini merupakan risalah kecil namun penuh dengan makian dan kutukan, berbagai dusta dan perselisihan tentang kisah Isa Al Masih.
Demikianlah begitu banyaknya kitab Talmud beserta versinya. Melihat hal ini maka tidaklah mengherankan jika ini menimbulkan permasalahan besar yaitu timbulnya sekte-sekte antara yang menerima Talmud dan yang menolaknya.
Dalam sejarah Yahudi ada tiga sekte utama yang mulai timbul semenjak Rabi Ezra memulai penulisan Taurat dan juga mengajarkan “Taurat Lisan” atau Talmud. Rabi Ezra yang paling bertanggung jawab akan rusaknya agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa.
Nabi Ibrahim, Nabi Musa hingga Nabi Muhammad adalah satu akidah dan satu agama yaitu agama Islam karena inti dari agama ini adalah Tiada Tuhan selain Allah. Dan ketika akidah yang telah dibawa oleh Nabi Musa ini dirusak dari dalam oleh Rabi Ezra dengan menyebutkan agama ini menjadi agama Yahudi dengan berpegangan pada Taurat karya kodifikasinya dan Talmud dalam bentuk dakwah secara lisan maka agama Islam pecah pertama kali menjadi sekte adalah buah tangan dari para rabi.
Dalam Al Qur’an, Allah menyebut kaum Nabi Musa ini dengan tiga nama yaitu: Bani Israel, Yahudi dan Ahlul Kitab. Masing-masing penyebutan ini dalam Al Qur’an memiliki konteks tersendiri.
Jika Allah menyebut Bani Israel adalah ketika mereka semua masih dalam satu akidah, agama Islam yang belum pecah menjadi firqah atau golongan baru meski panggilan ini selalu diikuti oleh kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka agar mereka bersyukur. Dan penyebutan ini melingkupi semua anak keturunan dari Nabi Ya’qub tidak peduli mereka beriman atau tidak. Hanya saja penyebutan ini mengingatkan kepada mereka akan begitu legendarisnya nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka agar mereka tetap ingat pada satu jalan: Islam.
Adapun penyebutan Yahudi ini sebagai penyebutan mereka yang telah keluar dari agama Islam yang mereka sendiri tahu betul bahwa misi Nabi Musa hanyalah ini sebagai mana tersebutkan dalam Ten Commandments ayat pertama.
Dan ketika mereka patuh pada rabi yang telah membuat kitab suci yang sejatinya bukan dari Allah dan tidak mengikuti ajaran murni Nabi Musa maka mereka sendiri disebut beryahudi bukan berislam lagi. Hal ini pantas dilabelkan kepada mereka sebab Islam hanya pantas bagi yang memegang teguh ajaran utama: Tiada Tuhan selain Allah. Dan doktrin ini di antaranya adalah tidak menyembah selain kepada Allah semata. Dan sebagian Bani Israel menyembah kepada para rabinya yang telah nyata-nyata membuat-buat kitab suci. Inilah yang sempat ditanyakan oleh para sahabat bagaimana Bani Israel menyembah kepada para rabi mereka. Jawaban Rasul adalah karena mereka tahu kalau rabi tersebut mengarang kitab dan dikatakan kitab dari Allah dan juga mereka tahu kalau para rabi berbuat dosa tetapi mereka diam saja dan bahkan patuh begitu saja. Sebagai bahan pengingat Anda bacalah ayat Al Qur’an di At Taubah ayat 31:
“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nashrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Maha Esa; Tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Di ayat ke-34 surat yang sama (dan juga bacalah artikel sebelum ini akan isi Talmud tentang pemberian harta wajib kepada rabi):
“Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahib (Nashrani) mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.”
Dan tentang Taurat serta Talmud yang dikarang oleh para rabi, Allah menyatakannya dalam Al Qur’an di surat Al Baqarah ayat ke-78 dan-79:
“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami kitab (Taurat) kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.”
“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri) kemudian berkata;”Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.”
Agama Yahudi adalah “agama” yang pertama kali menyimpang dari Islam dan inilah sebuah kerusakan besar dari buah tangan Bani Israel. Selain membunuh para nabi merupakan kerusakan yang mereka timbulkan karena para nabi mengajak mereka ke jalan Islam bukan agama Yahudi, Bani Israel juga adalah pelopor pembuat sempalan-sempalan dalam agama Islam.
Mereka tidak hanya membuat agama baru yaitu Yahudi tetapi dari agama baru ini pula timbul sekte-sekte baru lagi yang semuanya jauh dari apa yang disampaikan oleh Nabi Musa.
Sekte-sekte yang ada dalam agama Yahudi ada 8, tetapi tidak semua Bani Israel mengikuti agama Yahudi ini yang berlandaskan fatwa sesat rabi yang dimulai dari rabi Ezra.
Dari golongan yang tetap mengikuti ajaran murni Nabi Musa ini disebut Essene atau Al Qurraiyin atau Qumrn. Golongan inilah yang berpegang teguh pada kemurnian Taurat hingga datang Nabi Isa dan mereka menjadi pengikut setia beliau.
Adapun sekte yang terkenal adalah Phareesis (al Farisiyyun) dan Sadduccees (as Shadduqiyyun). Sekte Phareesis adalah sekte yang menerima Talmud sebagai kitab suci di samping Taurat. Untuk menjamin kesucian Talmud ini mereka menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan para rabi. Sedangkan Sadduccees tidak percaya kepada Talmud. Sekte ini mengingkari adanya hari kiamat, penghisaban dan hari akhri, baik surga dan neraka. Sekte ini tidak condong pada gerakan-gerakan revolusi atau garis keras, tetapi lebih condong untuk taat pada hukum yang berlaku selama agama Yahudi itu dihormati. Nabi Isa as memiliki hubungan yang baik dengan mereka, sebab beliau menyerang sekte Pharissee yang mana sekte ini menerima kekuasaan Kaisar Romawi. Namun, sikan sekete Sadducce yang ingkar hari akhir menjadi sebab perpecahan di antara mereka dan akhirnya ada di antara mereka yang menentang keras dakwah Nabi Isa.
Bagaiaman selanjutnya sejarah Talmud ini dengan Zinois? Silakan tunggu artikel selanjutnya
Archimedes is the real inspiring man who inspires us to never give up on the searching of solution on a very complicated problem. There are a lot of knowledges which are valuable to be searched for by us for a solution of our problem. Being born knew nothing, and live in this world to know and learn something, then we return to Allah with something to be accounted for. EUREKA, EUREKA, EUREKA, I HAVE FOUND THAT ALLAH GIVES ME SOME KNOWLEDGES TO BELIEVE IN HIM!
Jumat, 11 Juli 2008
Rabu, 09 Juli 2008
Aha Eureka! Yahudi: Berawal di Mesir Berakhir di Palestina (10)
Bab XI: Sejarah Talmud dan Kaitanya Dengan Zionis (bag.2)
Setelah penulis sampaikan kepada Anda isi dari Mishnah, kini penulis sajikan kepada Anda bagian utama yang kedua dari Talmud yaitu Gemara.
Gemara merupakan syarah, penjelasan, komentar, tafsir atau catatan pinggir dari Mishnah. Gemara lahir dikarenakan begitu banyaknya teks-teks yang masih global yang tidak jelas penafsirannya dalam kitab Mishnah. Ini bukanlah hal yang mengherankan karena Mishnah lair dari inspirasi rabi yang berbeda-beda yang masingmasing merasa memiliki otoritas sebagai “penyampai Taurat Lisan” ini padahal sejatinya kitab itu lahir dari kepentingan pribadi para rabi.
Cukup lama waktu yang dibutuhhkan oleh para rabi dalam menyelesaikan pembuatan kitab Gemara ini, yakni sekitar empat abad dari abad ke-2 Masehi hingga akhir abad ke-6.
Menurut sejarah Yahudi sendiri, orang pertama yang melakukan syarah terhadap Mishnah adalah dua putra rabi Judah Hanasi, Rabi Gamaliel dan Rabi simeon. Kemudian ini diteruskan oleh Rabi Ashi di Sura-sebuah kota yang terletak di tepi sungai Eufrat- pada tahun 365 M sampai 435 M. Dan disempurnakan oleh Rabi Abino dan terakhir oleh Rabi jose pada tahun 498 M.
Ada hal yang mendasar dari syarah Mishnah ini atau Gemara yaitu ia ditulis dalam bahasa Aramaika (Aramaic. Bagi Anda yang ingin tahu bagaimana bahasa Aramaika ini dapat Anda ketahui melalui film karya Mel Gibson: The Passion of Christ ) sedangkan Mishnah ditulis dalam bahasa Ibrani. Dan bahasa Ibrani yang digunakan pada Mishnah adalah bahasa Ibrani baru yang tidak sama dengan bahasa Ibrani yang digunakan pada Kitab Perjanjian Lama. Sebab, ketika Mishnah dituliskan, bani Israel tidak lagi menggunakan bahasa Ibrani sehari-hari melainkan bahasa Aramaika. Bahasa Ibrani pada waktu itu hanyalah mereka gunakan untuk kepentingan menulis hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan saja. Bahasa Ibrani yang mereka gunakan telah bercampur dengan bahasa-bahasa bangsa yang telah menjajah mereka yaitu Yunani, Latin (Romawi) dan Persia.
Dalam sejarahnya, Talmud ada dua versu yaitu Talmud Palestina dan Talmud Babilonia. Talmud Palestina memiliki masa penyusunan yang cukup lama yaitu dari abad ke-2 hingga abad ke-5 M. Rabi yang menyusun Talmud ini bukanlah rabi-rabi Palestina melainkan rabi –rabi kerajaan yang diketuai oleh Jochana.
Adapun Talmud Babilonia berawal pada abad ke-4 dan berakhir pada abad ke-6 dengan menggunakan bahasa Aramaika dan Talmud ini bukanlah karya satu tangan rabi melainkan banyak rabi dengan zaman yang berbeda-beda.
Gemara memiliki lampiran-lampiran yang disebut dalam bahasa Ibrani dengan Tosephoth. Rabi Chaia dianggap sebagai tokoh pertama yang memberikan komentarnya pada Gemara, dan komentarnya tersebut dinamakan dengan Baraietoth atau pendapat-pendapat murni yang disusupkan ke dalamnya. Ini berupa tafsiran dan penjelasan yang diberikan ulama terhadap Mishnah di luar sekolah pembelajaran agama Yahudi.
Semua komentar dan pendapat tersebut menjadi lengkap setelah adanya pendapat sampingan dalam bentuk komentar-komentar pendek atau prinsip sederhana yang dinamakan Piske Tosephoth.
Talmud yang terdiri dari Mishnah dan Gemara ini menjadi sebuah kitab yang begitu tambun, tetapi belum tersusun rapi karena begitu banyak komentar-komentar sampingan. Adalah Rabi Ishaq ben Ya’qub menerbitkan Talmud kecil yang dinamakan Hilkhoth yang berarti tradiis, sunnah atau adat. Rabi ini banyak menghapus teks-teks yang berisi perdebatan panjang yang menjemukan. Usahanya ini mendapat tentangan dari mayoritas sekte dalam agama Yahudi.
Adalah Rabi Maimonides (Moses ben Maimon) pada tahun 1180 (576 H) mengeluarkan karyanya yang mashur yang berjudul Mishnah Torah yang berarti “Pengembalian Undang-Undang”. Kitab ini juga masyhur dengan sebutan Iad Chazakah yang berarti “Tangan yang Kuat”.

Ilustrasi Rabi Maimonides
Rabi Maimonides, yang mendapat julukan Si Rajawali Candi Yahudi karena begitu besar jasanya dalam menyusun Talmud yang hingga kini ini sebagai bahan rujukan utama, menyertakan bahasan filsafat besar di dalam karyang tersebut.
Pada tahun 1240 M muncul sebuah kitab Talmud yang sudah diserhanakan di bawah pengawasan Rabi Ya’qub Ben Asher. Rabi ini merubah karya Rabi Maimonides dengan menghapuskan begitu banyak undang-undang. Para rabi berkonsensus untuk menamakan teks gubahan ini dengan nama Arbaa Turim yang berarti “Undang-Undang Talmud yang Empat”.
Setelah berlalu sekian lama, oleh karena adanya kontradiksi yang jelas antara faksi Fashi, Maimonides dan Asher, muncullah kebutuhan yang tinggi untuk mengadakan sebuah kitab Talmud yang mengandung berbagai solusi dan hukun-hukum praktis ringkas. Seorang rabi dari Palestina yang bernama Joseph ben Ephraim Caro segera memulai pekerjaan besar dan menghasilkan sebuah kitab yang bernama Shulhan Arukh (Set Table) yang berisi berbagai komentar terhadap kitab Arbaa Turim.
Akan tetapi tidak semua Yahudi, yang terpecah menjadi Yahudi Timur dan Barat, menerimanya. Yahudi Barat tidak menerima kitab Shulhan Arukh ini. Oleh karena itu, Rabi Musa Isirlisi menyusun sebuah kitab yang berisis komentar-komentarnya terhadap kitab Shulhan Arukh dengan nama Darakhi Musa yang berarti “Jalan Musa”. Dan Kitab ini ternyata diterima oleh kalangan Yahudi Barat.
Bagaimana selanjutnya kisah Talmud ini? Ikuti terus kisahnya dalam blog ini
Setelah penulis sampaikan kepada Anda isi dari Mishnah, kini penulis sajikan kepada Anda bagian utama yang kedua dari Talmud yaitu Gemara.
Gemara merupakan syarah, penjelasan, komentar, tafsir atau catatan pinggir dari Mishnah. Gemara lahir dikarenakan begitu banyaknya teks-teks yang masih global yang tidak jelas penafsirannya dalam kitab Mishnah. Ini bukanlah hal yang mengherankan karena Mishnah lair dari inspirasi rabi yang berbeda-beda yang masingmasing merasa memiliki otoritas sebagai “penyampai Taurat Lisan” ini padahal sejatinya kitab itu lahir dari kepentingan pribadi para rabi.
Cukup lama waktu yang dibutuhhkan oleh para rabi dalam menyelesaikan pembuatan kitab Gemara ini, yakni sekitar empat abad dari abad ke-2 Masehi hingga akhir abad ke-6.
Menurut sejarah Yahudi sendiri, orang pertama yang melakukan syarah terhadap Mishnah adalah dua putra rabi Judah Hanasi, Rabi Gamaliel dan Rabi simeon. Kemudian ini diteruskan oleh Rabi Ashi di Sura-sebuah kota yang terletak di tepi sungai Eufrat- pada tahun 365 M sampai 435 M. Dan disempurnakan oleh Rabi Abino dan terakhir oleh Rabi jose pada tahun 498 M.
Ada hal yang mendasar dari syarah Mishnah ini atau Gemara yaitu ia ditulis dalam bahasa Aramaika (Aramaic. Bagi Anda yang ingin tahu bagaimana bahasa Aramaika ini dapat Anda ketahui melalui film karya Mel Gibson: The Passion of Christ ) sedangkan Mishnah ditulis dalam bahasa Ibrani. Dan bahasa Ibrani yang digunakan pada Mishnah adalah bahasa Ibrani baru yang tidak sama dengan bahasa Ibrani yang digunakan pada Kitab Perjanjian Lama. Sebab, ketika Mishnah dituliskan, bani Israel tidak lagi menggunakan bahasa Ibrani sehari-hari melainkan bahasa Aramaika. Bahasa Ibrani pada waktu itu hanyalah mereka gunakan untuk kepentingan menulis hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan saja. Bahasa Ibrani yang mereka gunakan telah bercampur dengan bahasa-bahasa bangsa yang telah menjajah mereka yaitu Yunani, Latin (Romawi) dan Persia.
Dalam sejarahnya, Talmud ada dua versu yaitu Talmud Palestina dan Talmud Babilonia. Talmud Palestina memiliki masa penyusunan yang cukup lama yaitu dari abad ke-2 hingga abad ke-5 M. Rabi yang menyusun Talmud ini bukanlah rabi-rabi Palestina melainkan rabi –rabi kerajaan yang diketuai oleh Jochana.
Adapun Talmud Babilonia berawal pada abad ke-4 dan berakhir pada abad ke-6 dengan menggunakan bahasa Aramaika dan Talmud ini bukanlah karya satu tangan rabi melainkan banyak rabi dengan zaman yang berbeda-beda.
Gemara memiliki lampiran-lampiran yang disebut dalam bahasa Ibrani dengan Tosephoth. Rabi Chaia dianggap sebagai tokoh pertama yang memberikan komentarnya pada Gemara, dan komentarnya tersebut dinamakan dengan Baraietoth atau pendapat-pendapat murni yang disusupkan ke dalamnya. Ini berupa tafsiran dan penjelasan yang diberikan ulama terhadap Mishnah di luar sekolah pembelajaran agama Yahudi.
Semua komentar dan pendapat tersebut menjadi lengkap setelah adanya pendapat sampingan dalam bentuk komentar-komentar pendek atau prinsip sederhana yang dinamakan Piske Tosephoth.
Talmud yang terdiri dari Mishnah dan Gemara ini menjadi sebuah kitab yang begitu tambun, tetapi belum tersusun rapi karena begitu banyak komentar-komentar sampingan. Adalah Rabi Ishaq ben Ya’qub menerbitkan Talmud kecil yang dinamakan Hilkhoth yang berarti tradiis, sunnah atau adat. Rabi ini banyak menghapus teks-teks yang berisi perdebatan panjang yang menjemukan. Usahanya ini mendapat tentangan dari mayoritas sekte dalam agama Yahudi.
Adalah Rabi Maimonides (Moses ben Maimon) pada tahun 1180 (576 H) mengeluarkan karyanya yang mashur yang berjudul Mishnah Torah yang berarti “Pengembalian Undang-Undang”. Kitab ini juga masyhur dengan sebutan Iad Chazakah yang berarti “Tangan yang Kuat”.

Ilustrasi Rabi Maimonides
Rabi Maimonides, yang mendapat julukan Si Rajawali Candi Yahudi karena begitu besar jasanya dalam menyusun Talmud yang hingga kini ini sebagai bahan rujukan utama, menyertakan bahasan filsafat besar di dalam karyang tersebut.
Pada tahun 1240 M muncul sebuah kitab Talmud yang sudah diserhanakan di bawah pengawasan Rabi Ya’qub Ben Asher. Rabi ini merubah karya Rabi Maimonides dengan menghapuskan begitu banyak undang-undang. Para rabi berkonsensus untuk menamakan teks gubahan ini dengan nama Arbaa Turim yang berarti “Undang-Undang Talmud yang Empat”.
Setelah berlalu sekian lama, oleh karena adanya kontradiksi yang jelas antara faksi Fashi, Maimonides dan Asher, muncullah kebutuhan yang tinggi untuk mengadakan sebuah kitab Talmud yang mengandung berbagai solusi dan hukun-hukum praktis ringkas. Seorang rabi dari Palestina yang bernama Joseph ben Ephraim Caro segera memulai pekerjaan besar dan menghasilkan sebuah kitab yang bernama Shulhan Arukh (Set Table) yang berisi berbagai komentar terhadap kitab Arbaa Turim.
Akan tetapi tidak semua Yahudi, yang terpecah menjadi Yahudi Timur dan Barat, menerimanya. Yahudi Barat tidak menerima kitab Shulhan Arukh ini. Oleh karena itu, Rabi Musa Isirlisi menyusun sebuah kitab yang berisis komentar-komentarnya terhadap kitab Shulhan Arukh dengan nama Darakhi Musa yang berarti “Jalan Musa”. Dan Kitab ini ternyata diterima oleh kalangan Yahudi Barat.
Bagaimana selanjutnya kisah Talmud ini? Ikuti terus kisahnya dalam blog ini
Senin, 07 Juli 2008
Aha Eureka! Yahudi: Berawal di Mesir Berakhir di Palestina (9)
Bab X: Sejarah Talmud dan Kaitannya dengan Zionisme.
Seperti yang penulis sampaikan pada bab sebelumnya bahwa Yahudi tidak hanya memiliki kitab ajaran tertulis yang ditelah dikodifikasi ulang oleh Ezra dan Nehemia, tetapi mereka juga memiliki kita “Taurat Lisan” yaitu Talmud.
Talmud terdiri dari dua bagian utama yaitu Mishnah dan Gemara meski masih ada lagi lampiran-lampiran dan tafsiran-tafsiran lain di luar dua bagian utama tersebut. Mengapa terjadi demikian? Hal ini disebabkan ada beberapa rabi yang mengklaim apa yang ia sampaikan juga merupakan “Taurat Lisan” Nabi Musa. Tidaklah mengherankan sebab sejarah awal Talmud ini berasal dari inspirasi manusia yang mana manusi sejatinya memiliki motif masing-masing. Ezra dan Nehemia, dua rabi pengkodifikasi Taurat awal memiliki motifasi untuk menyatukan bangsa Yahudi yang telah terpencar-pencar dan memiliki kepercayaan ala Babilonia dan Persia. Tentu saja langkah kedua rabi tersebut yang memiliki “Taurat Lisan” ini diikuti oleh rabi lain dengan pengklaiman yang sama: mendapat inspirasi dari Tuhan untuk menyampaikan “Taurat Lisan”.
Dengan demikian, Talmud memiliki isi yang beragam dan satu sama lain isinya ada yang berbeda. Dalam sejarahnya pula, agama Yahudi memiliki dua aliran kitab Talmud: versi Babilonia dan versi Palestina. Dalam versi Babilonia, Mishnah dibagi menjadi Sura, Pumbaditha, dan Neherdea dan dalam versi Palestina Mishnah dibagi menjadi Tiberias, Jamina dan Lydia.
Mishnah adalah bagian pertama dan yang paling utama dari isi Talmud. Mishnah ditulis dalam bahasa Ibrani baru (new Hebrew) yang telah terpengaruh oleh bahasa Yunani, Latin dan Persia. Tiga bangsa dari tiga bahasa tadi ini memang pernah menjajah bangsa Yahudi cukup lama.
Mishnah terdiri dari enam bagian yaitu:
1. Zeraim. Bagian ini terdiri dari 11 risalah. Kesebelas risalah itu adalah:
a. Berakhoth, tentang pemberian berkah dan doa-doa juga membahas tentang aturan upacara keagamaan.
b. Peah, tentang masalah tanah perkebunan dan hasilnya.
c. Demai, tentang masalah subhat.
d. Kilaim, tentang masalah percampuran
e. Schebiith, tentang hukum berkaitan hari Sabtu.
f. Terumoth, tentang masalh persembahan, kurban, dan apa saja yang dapat diersembahkan kepada rabi.
g. Maaseroth, tentang pajak sepersepuluh persen dari harta yang dimiliki yang wajib diserahkan kepada anggota keluarga Lewi (:kabilah Ibrani).
h. Maaser Schemi, tentang pajak juga.
i. Chaalah, tentang keju dan bagian-bagiannya yang wajib diberikan kepada para rabi.
j. Orlah, tentang kaum yang tidak dikhitan (kaum paganis atau non-Yahudi)
k. Bikhurim, tentang buah tanaman pertama yang wajib diserahkan kepada para rabi.
Dari risalah Zeraim ini dapat Anda bayangkan bagaimana powerful-nya para rabi. Memang semenjak awal penyusunan Taurat, para rabi mengambil alih kekosongan figur yang dapat mempersatukan Yahudi setelah dihancur-leburkan oleh Nebukhanedzar. Tidak ada tokoh yang disegani dan dihormati inilah para rabi menyusun Taurat dan membuat “Taurat Lisan” atau Talmud sebagai kekuatan religius meski Talmud sejatinya bukan risalah Nabi Musa yang diturunkan oleh Allah kepada beliau. Talmud hanyalah akal-akalan rabi untuk menjadi pemimpin atau tokoh yang dihormati.
Selanjutnya bagian kedua dari Mishnah adalah
2. Moed. Moed berisikan tentang puasa dan hari-hari besar. Bagian ini terdiri dari 12 risalah yaitu
a. Scabbath, tentang berbagai perbuatan yang diharamkan pada hari Sabtu.
b. Erubhin, tentang segala perintah dan larangan tentang makanan pada malam Sabtu.
c. Pesachim, tentang hari raya Paskah Yahudi.
d. Schekalim, tentang besar, panjang dan sifat-sifat bendul.
e. Ioma, tentang berhubungan dengan “Hari Kaffarat” (Hari Penebusan Dosa) dan berbagai kewajiban yang harus dilakukan.
f. Sukkah, tentang kemah yang dipakai oelh kaum Yahudi sebagaii Candi Berpindah (Tabernacle) setelah runtuhnya Haikal Sulaiman. Risalah ini juga membahas hukum-hukum yag berhubungan dengan upacara keagamaan di kemah atau candi.
g. Betsah, membahas perbuatan yang haram dan yang mubah yang dilakukan pada setiap hari-hari besar.
h. Rosh Haschanah, tentang tahun baru Ibrani atau upacara yang dilakukan pada tahun baru.
i. Taanith, tentang puasa dan segala permasalahanannya.
j. Megillah, tentang pembacaan buku Ester dan hal-hal yang berhubungan dengan upacara keagamaan pada hari raya Purim.
k. Moed Katon, tentang hari raya kedua (Minor Feast) dan membahas tentang segala aturan yang berhubungan dengan hari-hari pertama pada perayaan Paskah Yahudi dan perayaan Succoth.
l. Chagigah, tentang perbandingan antara tiga hari raya yaitu Paskah, Succoth, dan hari raya Kemah atau Candi.
3. Nashim. Bagian ini berisi berbagai undang-undang tentang wanita, seperti pernikahan, perceraian, kewajiban wanita, shalat wanita, dan segala masalah yang berhungan dengan mereka. Ini terdiri dari 7 risalah, yang salah satunya yang terkenal adalah Abhodah Zarah (penyembah berhala). Risalah ini menjadi landasan bagi orang-orang yahudi dalam memperat hubungan mereka dengan agama-agama berhala. Agama berhala di sini maksudnya- menurut mereka- adalah semua agama selain Yahudi. Seperti yang telah mereka alami kalau mereka telah dijajah oleh berbagai bangsa yang beragama pagan dari Mesir, Assyria, Babilonia, Persia dan Yunani, maka kontak antara agama mereka dan agama pagan ini sangat kental. Belum lagi mereka percaya bahwa Nabi Sulaiman sendiri sebagai Nabi yang membolehkan untuk melakukan sihir dankontak gaib. Hal ini dalam Al Qur’an dibantah oleh Allah dalam Al Baqarah ayat ke-102.
Ketujuh risalah dari Nashim adalah;
a. Jebbamoth, tentang saudara-saudara perempuan suami atau saudara-saudara perempuan istri.
b. Kethuboth, tentang akad nikah
c. Gittin, khusus membahas masalah perceraian.
d. Nedarim, khusus tentang masalah nadzar.
e. Nasir, khusus tentang apa-apa yang telah dinadzarkan.
f. Sotah, tentang perempuan yang dianggap pezina.
4. Nazikin. Bagian ini khusus berhubungan dengan masalah kejahatan atau krimininalitas, baik pidana maupun perdata. Bagian ini terdiri dari 10 risalah yaitu.
a. Baba Kama atau Pengantar Pertama. Tentang kejahatan dan kezaliman, serta cara-cara mengatasinya.
b. Baba Metsia atau Pengantar Pertengahan. Tentang aturan-aturan yang berhubungan dengan barang-barang temuan, amanat, jual-beli, penyewaan, peminjaman, dan jasa.
c. Baba Bathra atau Pengantar Penutup. Ini membahas tentang aturan-aturan yang berhubungan dengan harta perniagaan dan modal yang pada umumnya didapatkan melalui aturan konvensional. Ini juga membahas tentang pembagian harta warisan.
d. Sanhendrin, tentang mahkamah atau peradilan yang mencakup hakim, jaksa, terdakwa dan sebagainya.
e. Makkoth, tentang hukuman cambuk bagi para kriminal.
f. Schebuoth, tentang masalah sumpah.
g. Edaioth, tentang masalah kesaksian.
h. Horaioth, tentang pengadilan yang menangani kasus-kasus yang dihadapkan ke meja hijau.
i. Abhodah Zarah, tentang paganisme (hukum penyembahan berhala).
j. Abhoth, tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan orang tua dan nenek moyang. Risalah ini juga dinamakan Pirke Abhoth.
5. Kodashim. Bagian ini membahas masalah sesembahan, kurban, dan semua upacara keagamaan. Ini terdiri dari 11 risalah yaitu.
a. Zebbachim, tentang sesembahan, hewan-hewan mana yang layak dijadikan sesembahan.
b. Chullin, tentang perkara najis dan tradisi menyembelih hewan yang disembelih untuk dikonsumsi sehari-hari.
c. Menachoth, tentang tata cara penghidangan daging dan makanan cair.
d. Bekhoroth, tentang anak pertama, baik anak pertama sendiri atau anak pertama dari binatang piaraan.
e. Erakhin, mengenai penyucian batin agar pelakunya hanya mengkhususkan kehidupan dirinya hanya untuk Allah.
f. Temurah, tentang barter atau tukar menukar harta benda.
g. Meilah, tentang dosa dan hal-hal yang dapat mengotori kesucian.
h. Kerithuth, tentang pajak atau pungutan yang wajib dibayarkan untuk menebus dosa-dosa yang telah dilakukan.
i. Tamid, tentang kurban harian, yakni membahas tentang tata cara pengabdian pada Candi yang berhubungan dengan persembahan pagi dan sore setiap hari.
j. Middoth, tentang ukuran dan bentuk candi secara geometri. Candi yang dimaksud adlaah Haikal Sulaiman.
k. Kinnim, tentang sembelihan-sembelihan yang berhubungan burung-burung dan yang dipersembahkan kepada orang-orang miskin.
6. Toharoth. Bagian ini berisi tentang masalah thaharah yang berkaitan dengan kesucian lahir dari benda-benda najis. Bagian ini berisi 12 risalah yaitu.
a. Kelim, tentang bejana yang dapat dijadikan sebagai alat untuk bersuci pada upacara keagamaan.
b. Oholoth, tentang kemah dan tempat tinggal serta masalah kotoran dan penyuciannya.
c. Negaim, tentang air yang ada di kolam atau sumur.
d. Parah, tentang sapi kecil dan pemakain abu bangkainya untuk bersuci.
e. Tohoroth, tentang bersuci dari najis.
f. Mikvaoth, membahas tentang keadaan sumur atau ruangan yang layak dijadikan sebagai tempat membersihkan diri.
g. Inddah, tentang masalah haid dan najis-najis yang keluar dari tubu wanita.
h. Makschirin, tentang ramuan-ramuan.
i. Zabhim, tentang air mani, air kencing, dan kotoran lain yang keluar dari tubuh.
j. Tebihul Iom, tentang mandi setiap hari.
k. Iadaim, tentang tangan dan tata cara membersihkannya dari segala najis.
l. Oketsin, tentang buah-buahan dan kulitnya serta bagaimana cara membuang najisnya menurut aturan agama.
Dengan demikian secara keseluruhan Mishnah terdiri dari 63 risalah yang masing-masing memiliki ayat tertentu yang disebut dengan Perakim.
Selanjutnya bagaimana isi dari Talmud ini dan isinya berkaitan dengan zionis? Ikuti terus artikel menarik ini.
Seperti yang penulis sampaikan pada bab sebelumnya bahwa Yahudi tidak hanya memiliki kitab ajaran tertulis yang ditelah dikodifikasi ulang oleh Ezra dan Nehemia, tetapi mereka juga memiliki kita “Taurat Lisan” yaitu Talmud.
Talmud terdiri dari dua bagian utama yaitu Mishnah dan Gemara meski masih ada lagi lampiran-lampiran dan tafsiran-tafsiran lain di luar dua bagian utama tersebut. Mengapa terjadi demikian? Hal ini disebabkan ada beberapa rabi yang mengklaim apa yang ia sampaikan juga merupakan “Taurat Lisan” Nabi Musa. Tidaklah mengherankan sebab sejarah awal Talmud ini berasal dari inspirasi manusia yang mana manusi sejatinya memiliki motif masing-masing. Ezra dan Nehemia, dua rabi pengkodifikasi Taurat awal memiliki motifasi untuk menyatukan bangsa Yahudi yang telah terpencar-pencar dan memiliki kepercayaan ala Babilonia dan Persia. Tentu saja langkah kedua rabi tersebut yang memiliki “Taurat Lisan” ini diikuti oleh rabi lain dengan pengklaiman yang sama: mendapat inspirasi dari Tuhan untuk menyampaikan “Taurat Lisan”.
Dengan demikian, Talmud memiliki isi yang beragam dan satu sama lain isinya ada yang berbeda. Dalam sejarahnya pula, agama Yahudi memiliki dua aliran kitab Talmud: versi Babilonia dan versi Palestina. Dalam versi Babilonia, Mishnah dibagi menjadi Sura, Pumbaditha, dan Neherdea dan dalam versi Palestina Mishnah dibagi menjadi Tiberias, Jamina dan Lydia.
Mishnah adalah bagian pertama dan yang paling utama dari isi Talmud. Mishnah ditulis dalam bahasa Ibrani baru (new Hebrew) yang telah terpengaruh oleh bahasa Yunani, Latin dan Persia. Tiga bangsa dari tiga bahasa tadi ini memang pernah menjajah bangsa Yahudi cukup lama.
Mishnah terdiri dari enam bagian yaitu:
1. Zeraim. Bagian ini terdiri dari 11 risalah. Kesebelas risalah itu adalah:
a. Berakhoth, tentang pemberian berkah dan doa-doa juga membahas tentang aturan upacara keagamaan.
b. Peah, tentang masalah tanah perkebunan dan hasilnya.
c. Demai, tentang masalah subhat.
d. Kilaim, tentang masalah percampuran
e. Schebiith, tentang hukum berkaitan hari Sabtu.
f. Terumoth, tentang masalh persembahan, kurban, dan apa saja yang dapat diersembahkan kepada rabi.
g. Maaseroth, tentang pajak sepersepuluh persen dari harta yang dimiliki yang wajib diserahkan kepada anggota keluarga Lewi (:kabilah Ibrani).
h. Maaser Schemi, tentang pajak juga.
i. Chaalah, tentang keju dan bagian-bagiannya yang wajib diberikan kepada para rabi.
j. Orlah, tentang kaum yang tidak dikhitan (kaum paganis atau non-Yahudi)
k. Bikhurim, tentang buah tanaman pertama yang wajib diserahkan kepada para rabi.
Dari risalah Zeraim ini dapat Anda bayangkan bagaimana powerful-nya para rabi. Memang semenjak awal penyusunan Taurat, para rabi mengambil alih kekosongan figur yang dapat mempersatukan Yahudi setelah dihancur-leburkan oleh Nebukhanedzar. Tidak ada tokoh yang disegani dan dihormati inilah para rabi menyusun Taurat dan membuat “Taurat Lisan” atau Talmud sebagai kekuatan religius meski Talmud sejatinya bukan risalah Nabi Musa yang diturunkan oleh Allah kepada beliau. Talmud hanyalah akal-akalan rabi untuk menjadi pemimpin atau tokoh yang dihormati.
Selanjutnya bagian kedua dari Mishnah adalah
2. Moed. Moed berisikan tentang puasa dan hari-hari besar. Bagian ini terdiri dari 12 risalah yaitu
a. Scabbath, tentang berbagai perbuatan yang diharamkan pada hari Sabtu.
b. Erubhin, tentang segala perintah dan larangan tentang makanan pada malam Sabtu.
c. Pesachim, tentang hari raya Paskah Yahudi.
d. Schekalim, tentang besar, panjang dan sifat-sifat bendul.
e. Ioma, tentang berhubungan dengan “Hari Kaffarat” (Hari Penebusan Dosa) dan berbagai kewajiban yang harus dilakukan.
f. Sukkah, tentang kemah yang dipakai oelh kaum Yahudi sebagaii Candi Berpindah (Tabernacle) setelah runtuhnya Haikal Sulaiman. Risalah ini juga membahas hukum-hukum yag berhubungan dengan upacara keagamaan di kemah atau candi.
g. Betsah, membahas perbuatan yang haram dan yang mubah yang dilakukan pada setiap hari-hari besar.
h. Rosh Haschanah, tentang tahun baru Ibrani atau upacara yang dilakukan pada tahun baru.
i. Taanith, tentang puasa dan segala permasalahanannya.
j. Megillah, tentang pembacaan buku Ester dan hal-hal yang berhubungan dengan upacara keagamaan pada hari raya Purim.
k. Moed Katon, tentang hari raya kedua (Minor Feast) dan membahas tentang segala aturan yang berhubungan dengan hari-hari pertama pada perayaan Paskah Yahudi dan perayaan Succoth.
l. Chagigah, tentang perbandingan antara tiga hari raya yaitu Paskah, Succoth, dan hari raya Kemah atau Candi.
3. Nashim. Bagian ini berisi berbagai undang-undang tentang wanita, seperti pernikahan, perceraian, kewajiban wanita, shalat wanita, dan segala masalah yang berhungan dengan mereka. Ini terdiri dari 7 risalah, yang salah satunya yang terkenal adalah Abhodah Zarah (penyembah berhala). Risalah ini menjadi landasan bagi orang-orang yahudi dalam memperat hubungan mereka dengan agama-agama berhala. Agama berhala di sini maksudnya- menurut mereka- adalah semua agama selain Yahudi. Seperti yang telah mereka alami kalau mereka telah dijajah oleh berbagai bangsa yang beragama pagan dari Mesir, Assyria, Babilonia, Persia dan Yunani, maka kontak antara agama mereka dan agama pagan ini sangat kental. Belum lagi mereka percaya bahwa Nabi Sulaiman sendiri sebagai Nabi yang membolehkan untuk melakukan sihir dankontak gaib. Hal ini dalam Al Qur’an dibantah oleh Allah dalam Al Baqarah ayat ke-102.
Ketujuh risalah dari Nashim adalah;
a. Jebbamoth, tentang saudara-saudara perempuan suami atau saudara-saudara perempuan istri.
b. Kethuboth, tentang akad nikah
c. Gittin, khusus membahas masalah perceraian.
d. Nedarim, khusus tentang masalah nadzar.
e. Nasir, khusus tentang apa-apa yang telah dinadzarkan.
f. Sotah, tentang perempuan yang dianggap pezina.
4. Nazikin. Bagian ini khusus berhubungan dengan masalah kejahatan atau krimininalitas, baik pidana maupun perdata. Bagian ini terdiri dari 10 risalah yaitu.
a. Baba Kama atau Pengantar Pertama. Tentang kejahatan dan kezaliman, serta cara-cara mengatasinya.
b. Baba Metsia atau Pengantar Pertengahan. Tentang aturan-aturan yang berhubungan dengan barang-barang temuan, amanat, jual-beli, penyewaan, peminjaman, dan jasa.
c. Baba Bathra atau Pengantar Penutup. Ini membahas tentang aturan-aturan yang berhubungan dengan harta perniagaan dan modal yang pada umumnya didapatkan melalui aturan konvensional. Ini juga membahas tentang pembagian harta warisan.
d. Sanhendrin, tentang mahkamah atau peradilan yang mencakup hakim, jaksa, terdakwa dan sebagainya.
e. Makkoth, tentang hukuman cambuk bagi para kriminal.
f. Schebuoth, tentang masalah sumpah.
g. Edaioth, tentang masalah kesaksian.
h. Horaioth, tentang pengadilan yang menangani kasus-kasus yang dihadapkan ke meja hijau.
i. Abhodah Zarah, tentang paganisme (hukum penyembahan berhala).
j. Abhoth, tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan orang tua dan nenek moyang. Risalah ini juga dinamakan Pirke Abhoth.
5. Kodashim. Bagian ini membahas masalah sesembahan, kurban, dan semua upacara keagamaan. Ini terdiri dari 11 risalah yaitu.
a. Zebbachim, tentang sesembahan, hewan-hewan mana yang layak dijadikan sesembahan.
b. Chullin, tentang perkara najis dan tradisi menyembelih hewan yang disembelih untuk dikonsumsi sehari-hari.
c. Menachoth, tentang tata cara penghidangan daging dan makanan cair.
d. Bekhoroth, tentang anak pertama, baik anak pertama sendiri atau anak pertama dari binatang piaraan.
e. Erakhin, mengenai penyucian batin agar pelakunya hanya mengkhususkan kehidupan dirinya hanya untuk Allah.
f. Temurah, tentang barter atau tukar menukar harta benda.
g. Meilah, tentang dosa dan hal-hal yang dapat mengotori kesucian.
h. Kerithuth, tentang pajak atau pungutan yang wajib dibayarkan untuk menebus dosa-dosa yang telah dilakukan.
i. Tamid, tentang kurban harian, yakni membahas tentang tata cara pengabdian pada Candi yang berhubungan dengan persembahan pagi dan sore setiap hari.
j. Middoth, tentang ukuran dan bentuk candi secara geometri. Candi yang dimaksud adlaah Haikal Sulaiman.
k. Kinnim, tentang sembelihan-sembelihan yang berhubungan burung-burung dan yang dipersembahkan kepada orang-orang miskin.
6. Toharoth. Bagian ini berisi tentang masalah thaharah yang berkaitan dengan kesucian lahir dari benda-benda najis. Bagian ini berisi 12 risalah yaitu.
a. Kelim, tentang bejana yang dapat dijadikan sebagai alat untuk bersuci pada upacara keagamaan.
b. Oholoth, tentang kemah dan tempat tinggal serta masalah kotoran dan penyuciannya.
c. Negaim, tentang air yang ada di kolam atau sumur.
d. Parah, tentang sapi kecil dan pemakain abu bangkainya untuk bersuci.
e. Tohoroth, tentang bersuci dari najis.
f. Mikvaoth, membahas tentang keadaan sumur atau ruangan yang layak dijadikan sebagai tempat membersihkan diri.
g. Inddah, tentang masalah haid dan najis-najis yang keluar dari tubu wanita.
h. Makschirin, tentang ramuan-ramuan.
i. Zabhim, tentang air mani, air kencing, dan kotoran lain yang keluar dari tubuh.
j. Tebihul Iom, tentang mandi setiap hari.
k. Iadaim, tentang tangan dan tata cara membersihkannya dari segala najis.
l. Oketsin, tentang buah-buahan dan kulitnya serta bagaimana cara membuang najisnya menurut aturan agama.
Dengan demikian secara keseluruhan Mishnah terdiri dari 63 risalah yang masing-masing memiliki ayat tertentu yang disebut dengan Perakim.
Selanjutnya bagaimana isi dari Talmud ini dan isinya berkaitan dengan zionis? Ikuti terus artikel menarik ini.
Langganan:
Postingan (Atom)